Pidato Dies Natalis ke-68 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia : 68 tahun GMKI mengabdi bagi Bangsa dan Gereja

Syalom,
Assalamualaikum Wr. Wb.,
Om Swastiastu,
Namo Budhaya,
Salam kebajikan

Dari awal berdirinya, bahkan sejak cikal bakal GMKI tahun 1932, 85 tahun lalu, GMKI selalu tegas dan konsisten memperjuangkan kemerdekaan, keadilan, dan kebenaran, juga menjaga keutuhan bangsa dan Gereja. Doktrin nasionalisme dan ekumenisme selalu menjadi pengikat erat setiap kader GMKI, baik para senior yang telah mengabdi di berbagai bidang, maupun para anggota aktif yang masih bergelut di dunia mahasiswa.

GMKI selama puluhan tahun menjadi sekolah latihan bagi mahasiswa Kristen untuk belajar mencintai Tuhan serta belajar mengabdi bagi bangsa dan gereja. GMKI menjalani panggilan ini dengan setia karena generasi muda yang ahli dan bertanggungjawab dibutuhkan untuk membangun bangsa dan gereja. Maka dalam Dies Natalis ini, kembali kami tegaskan bahwa GMKI akan selalu konsisten membina dan mempersiapkan pemimpin-pemimpin muda yang siap diutus untuk mengabdi bagi Gereja, bangsa, dan negara.

“Di umurnya yang ke-68, GMKI tidak lagi menjadi organisasi yang masih mencari jati diri. Sebaliknya, GMKI sudah menemukan jati diri dan tujuan kehadirannya, yakni mengabdi bagi bangsa dan gereja. Tujuan kehadiran ini tercermin dan terwujud melalui jati diri semua anggota GMKI. Anggota GMKI harus mengakar dengan kuat di gereja dan masyarakat. Oleh karena itu, setiap anggota GMKI harus selalu menjadi pelopor perdamaian dan persekutuan di tengah gereja, bangsa, dan negara. Namun di sisi lain, setiap anggota GMKI harus juga menjadi yang terdepan dalam menyampaikan suara kenabian, menyatakan kebenaran, melawan ketidakadilan, kejahatan, penindasan, dan hal-hal lainnya yang ingin mengganggu keharmonisan gereja dan masyarakat”.

“Pemudi dan pemuda  yang disebut _agen of change_ semestinya mengambil peran atau berpartisipasi dalam mengelola politik di Indonesia. Bentuk partisipasi politik pemuda tidak sekadar menguasai panggung politik dengan merebut kekuasaan tetapi juga dalam berbagai wajah yang lain. Partisipasi politik yang paling sederhana namun menentukan adalah menggunakan hak pilih dalam pemilu. Benar bahwa golput adalah sebuah pilihan, karena golput adalah memilih untuk tidak memilih. Namun perlu diperhatikan apa yang dikatakan oleh Berthold Brecht yang penting kita renungkan;  “Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik. Orang yang buta politik begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Si dungu tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional yang menguras kekayaan negeri.” Itu artinya memilih menjadi golput berarti memilih untuk tidak mau tahu dengan masa depan diri sendiri dan masa depan orang banyak”.

Tinggilah iman kita, tinggilah ilmu kita dan tinggilah pengabdian kita,

Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Masa Bakti 2016-2018

Leave a Comment

Your email address will not be published.