Peduli Tragedi KM. Sinar Bangun, PP GMKI Bentuk Posko Konseling Keluarga Korban dan Tim Investigasi Independen

Jakarta – Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI) mengadakan konferensi pers terkait tragedi tenggelamnya KM. Sinar Bangun di Danau Toba pada hari Jumat, 22 Juni 2018 di Ruang Crisis Center PP GMKI, Jl. Salemba Raya No. 10.

 

Sahat Sinurat, Ketua Umum GMKI mengatakan, empat hari berlalu setelah peristiwa tersebut, satu demi satu kejanggalan dan pertanyaan kemudian mencuat, mulai dari kelaiklautan kapal yang tidak sesuai regulasi, manifes pelayaran, nakhoda yang tidak terdaftar secara resmi (nakhoda tembak), lambatnya respon pencarian dan pertolongan serta tidak adanya data penumpang dalam kapal tersebut.

 

“Padahal nilai yang diutamakan dalam suatu musibah adalah setiap detik berharga bagi keselamatan korban. Selain itu minimnya upaya trauma healing bagi keluarga korban,” kata Sahat.

 

Sebenarnya banyak peralatan memadai yang bisa digunakan pada hari pertama. Banyak kapal milik perusahaan, individu, maupun instansi di kawasan Danau Toba. Begitu juga adanya beberapa helikopter yang ditempatkan di Sumatera Utara, baik milik Polri, TNI, Basarnas, juga milik beberapa individu dan perusahaan swasta di sekitar Danau Toba.

 

“Terkait koordinasi manajemen dan sistem pelayaran di kawasan Danau Toba serta koordinasi antar instansi ketika terjadi kondisi tanggap darurat seperti yang terjadi patut kita pertanyakan,” sambung Sahat.

 

Bagaimanakah peranan dan koordinasi di antara Pemerintah Kabupaten Samosir, Pemerintah Kabupaten Simalungun, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, Badan Otorita Danau Toba, Kementerian Perhubungan, Kemenko Maritim, Basarnas, dan berbagai instansi lainnya.

 

Dalam hal ini, PP GMKI juga mempertanyakan pernyataan menteri perhubungan Budi Karya terkait audit kelaikan kapal.

 

Kejadian yang sama juga pernah pada tahun 1997, yakni tenggelamnya KM Peldatari I yang memakan banyak korban jiwa. Kapal tenggelam karena mengangkut penumpang melebihi daya angkutnya. Dalam insiden maut itu, sebanyak 83 korban ditemukan tewas dan puluhan penumpang lainnya hilang, 85 korban ditemukan selamat.

 

“Menjadi pertanyaan bagi kita, apakah selama bertahun-tahun, instansi terkait rutin melakukan audit kelaiklautan kapal? Ataukah ada pembiaran dan kesengajaan dari pihak instansi dan swasta, sehingga kapal yang tidak memenuhi regulasi dapat tetap berlayar secara rutin? Apakah selama belasan tahun ini, audit kapal dan sistem pelayaran sudah dilakukan secara berkala di seluruh pelabuhan di Indonesia, khususnya dalam kasus ini, di Danau Toba,” tegas Sahat.

 

Sangat disayangkan jika visi baik dari pemerintah khususnya Presiden Jokowi untuk membangun Poros Maritim Dunia dan Tol Laut, ternyata tidak bisa diterjemahkan secara lebih rinci dan teknis di tingkatan lapangan. Kami menduga ada kebobrokan pengelolaan sistem pelayaran yang sudah berlangsung selama puluhan tahun dan kondisi yang terjadi di Danau Toba, juga banyak terjadi di pelabuhan-pelabuhan lainnya di Indonesia.

 

Sahat mengatakan, PP GMKI akan menggunakan seluruh potensi organisasi yang ada di Sumatera Utara untuk melakukan langkah investigasi. Tim ini nantinya akan memberikan perimbangan informasi yang beredar tentang hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa tenggelamnya kapal Sinar Sinabung.

 

“Hasil dari investigasi ini kami akan sampaikan ke beberapa pihak terkait dan kami harapkan dapat memperjelas kondisi yang saat ini terjadi di Danau Toba, dan menjadi evaluasi berharga untuk memperbaiki sistem pelayaran di Indonesia,” Tegas Sahat.

 

Selain akan melakukan investigasi, PP GMKI juga akan membentuk posko konseling untuk korban dan keluarga korban, sehingga keluarga korban yang saat ini mengalami tekanan kesedihan dan kelelahan bisa mendapatkan trauma healing. Begitu juga anak-anak keluarga korban dapat didampingi. Semoga dukungan ini dapat membantu keluarga korban dan meringankan beban kesedihan yang dirasakan keluarga korban.

 

Dalam konferensi pers ini, PP GMKI juga menyampaikan belasungkawa dari GMKI se-Tanah Air atas tragedi korban tenggelam KM. Sinar Bangun di Danau Toba pada hari Senin, 18 Juni 2018.

 

“Turut belasungkawa yang sedalam-dalamnya kami sampaikan keseluruh korban dan keluarga korban. Semoga korban yang meninggal diterima disisi Tuhan dan keluarga yang ditinggal diberi kekuatan dan ketabahan,” tutup Sahat.

Leave a Comment

Your email address will not be published.