Konsultasi Nasional, GMKI Bahas Peran Gereja dalam Menghadapi Isu Sosial Narkoba dan Kekerasan Terhadap Perempuan

Bitung – Kasus narkoba semakin merajalela di Indonesia dan semakin menggerogoti otak khususnya pemuda. Setiap hari kurang lebih 40 orang di Indonesia meninggal karena over dosis penggunaan narkoba. Hal ini disampaikan Richad Nayoan dari Garda Mencegah Daripada Mengobati (GMDM) dalam Konsultasi Nasional GMKI di Bitung (13/7).

 

Tempat pengedaran narkoba yang paling sering dan aman dilakukan di Kampus, Gereja dan Lapas. Tempat ini dikatakan paling aman karena mudah dan cepat dalam bertransaksi.

 

Richad menambahkan, dalam pengedaran narkoba antar negara, berbagai cara penyeludupan dilakukan seperti yang sering kita lihat di televisi. Bahkan yang paling tragis adalah mengedarkan narkoba dalam perut bayi yang dicuri dengan cara merobek perut bayi.

 

“Narkoba adalah kejahatan yang paling tinggi dalam merusak otak dan fisik manusia. Narkoba akan merusak otak kecil manusia yang berfungsi untuk membedakan mana yang baik dan buruk. Padahal didalam dunia ini, otak kecil hanya dimiliki oleh manusia saja. Semakin sering mengonsumsi narkoba, maka otak kecil akan semakin mengerut dan lama-lama akan lumpuh,” tegas Richad.

 

“Maka sebagai pemuda gereja yang masih berpikir untuk memberantas narkoba, GMKI harus terus mengkampanyekan untuk menghindar dari narkoba,” kata Richad.

 

Sementara itu, isu kekerasan terhadap perempuan yang dibawakan oleh Ketua Umum PERUATI Ruth Wangkai mengatakan, kekerasan terhadap perempuan adalah pembedaan berbasis gender yang mungkin berakibat kesengsaraan atau penderitaan perempuan secara fisik, seksual dan psikologis. Termasuk ancaman terjadinya perbuatan pemaksaan atau perampasan kebebasan secara sewenang-wenang, baik yang terjadi di ruang publik maupun di dalam kehidupan pribadi (Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan, Ps 1).

 

“Karena itu sebagai “mata rantai pembunuh kehidupan”, kekerasan terhadap perempuan tak dapat dibiarkan karena akan menghancurkan kehidupan. Kekerasan ini merupakan kejahatan kemanusiaan dan pelanggaran HAM sekaligus pelanggaran terhadap penciptaan itu sendiri,” tegas Ruth.

 

Pelaku kekerasan seksual terbanyak adalah orang-orang terdekat korban, seperti ayah kandung, ayah tiri, suami, kakek, paman, kakak ipar, mertua, pacar, dan ada juga orang yang tidak dikenal.

 

“Kiranya melalui KONAS ini, GMKI menemukan langkah preventif yang konkret untuk mengatasi kekerasan terhadap perempuan untuk kita suarakan bersama,” tutup Ruth.

Leave a Comment

Your email address will not be published.