Konas GMKI: Komitmen Persaudaraan Tangkal Radikalisme

Bitung – Mantan Anggota DPR-RI, Firman Jaya Daeli mengatakan gerakan Radikalisme di Indonesia terkhususnya di Pendidikan Tinggi merupakan tanggung jawab seluruh stake holder baik negara maupun masyarakat.

 

“Negara harus hadir untuk melindungi warganya yang merupakan wujud dalam bentuk kebijakan negara. Kedepan, kehadiran negara tidak gamang dan tidak mengganggu masyarakat,” kata dia pada saat Konsultasi Nasional GMKI di Kota Bitung, Sulawesi Utara pada hari Sabtu (14/7).

 

Selain negara, kata dia masyarakat sosial atau NGO juga memiliki peranan dalam menangkal gerakan radikalisme.

 

Dia juga mengatakan bahwa simpul-simpul anak muda dan kantong-kantong kebudayaan adalah wadah yang strategis untuk menguatkan persaudaraan tanpa menunjukkan perbedaan yang ada. Sehingga komitmen persaudaraan akan semakin kuat tanpa adanya pikiran radikal.

 

“Perguruan Tinggi harusnya menjadi refleksi dan indoktrinisasi dari jenjang di masa sebelumnya. Perguruan tinggi harus dalam posisi mengimbangannya dengan save education,” kata dia.

 

“Mahasiswa hari ini sudah bertransformasi. Kelompok cipayung plus harus menjadi salah satu kelompok strategis untuk menangkal paham-paham radikal,” kata dia.

 

Sementara itu, Grall Taliawo seorang tokoh muda mengatakan, Indonesia merupakan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diselenggarakan diatas falsafah Pancasila.

 

“Indonesia memiliki sistem ketatanegaraan berupa demokrasi yang diperkuat dengan bentuk negara kita yaitu negara kesatuan,” kata dia.

 

Menurut dia, Indoensia dibangun dan diselenggarakan diatas dasar falsafah Pancasila sebagai idiologi negara dengan Bhinneka Tunggal Ika yang relevan dengan sistem ketatanegaraan bangsa Indonesia.

 

“Kita jangan membuka ruang bagi elemen-elemen dengan ideologi lain, tetapi kita harus menambahkan elemen dinamis sesuai dengan perkembangan zaman yang tidak lepas dari Pancasila,” kata dia.

 

Indonesia selama ini memiliki dua tafsiran yaitu tafsir tunggal dan tafsir parsial. Tetapi memang mengalami dinamika dan tantangan.

 

“Indonesia saat ini mengalami ancaman-ancaman dan gerakan dari berbagai metode. Ada metode gerakan formal, gerakan sosial, informal, budaya bahkan gerakan radikal tetapi tidak berhasil. Radiks itu sejatinya bagus tetapi menjadi terdistorsi akibat dari gerakan intoleran,” kata dia.

 

“Gerakan radikalisme memiliki paham fundamentalisme dan terorisme. Jadi jangan sekali-sekali membuat pikiran radikal. Cara berpikir berbeda merupakan hal yang bagus, tetapi bukan sebentuk radikalisme dan intoleran,” tutup Grall.

Leave a Comment

Your email address will not be published.