Aksi Harga Kopra Anjlok, Anggota GMKI Luka Terkena Peluru Karet

Foto: Massa aksi KOPRA SULUT di depan gedung Kantor DPRD Propinsi Sulawesi Utara. (GMKI/Medkominfo)

GMKI.OR.ID, Manado – Tindakan represifitas terjadi didepan Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Utara terhadap mahasiswa. Massa aksi yang ditaksir berjumlah 217 itu sebelumnya berkumpul di Lapangan Tikala Manado Pukul 09:00 Wita, yang kemudian bergerak menuju Kantor DPRD pada pukul 11.00 dan tiba di Kantor DPRD pada pukul 12:30 untuk menggelar aksi.

Menurut Rilis kronologis aksi, rekan-rekan mahasiswa yang menamakan sebagai Gerakan Kolektif Perjuangan Rakyat (KOPRA) Sulut mengalami represifitas dari aparat keamanan yang menjaga aksi pada saat itu. Organisasi yang tergabung didalamnya ialah GMKI Cab. Manado, GMKI Cab. Tondano, LMND Sulut, HMI DIPO Cab. Minahasa, HMI DIPO Cab. Manado, HMI MPO Cab. Manado, PMII Cab. Manado, FKMMU Minahasa, MAHKOTA Manado, HPMS Sulut, PMHU Sulut dan FIGMS menggelar aksi terkait dengan anjloknya harga Kopra hari ini (26/11/2018).

Aksi tersebut diwarnai kontak fisik yang dilakukan pihak kepolisian terhadap mahasiswa. Lima orang massa aksi menjadi korban. Salah satunya Riko, Anggota GMKI Cab. Manado menjadi korban penembakan peluru karet oleh oknum polisi dan mengalami tekanan dari  pihak kesektariatan DPRD yang di Pimpin langsung oleh Sekretaris Dewan Bapak Bartolomeus Manonutu saat terjadinya bentrok.

“Di tengah berlangsungnya aksi, teman-teman mengalami tekanan dari pihak kepolisian, kurang lebih gesekan terjadi sebanyak tiga kali. Tak hanya itu, Polisi pun menembakkan peluru karet dan terkena di kaki saya” ungkap Riko.

Dalam penembakan peluru karet itu, Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan BPC GMKI Cab. Tondano, Asterlita Raha menilai perlakuan dan tindakan represif pihak Kepolisian itu adalah salah satu bentuk kekerasan dan represifitas yang dilakukan Kepolisian terhadap massa aksi. Dia pun menyayangkan kejadia itu terjadi pada anggotanya.

“Kami GMKI Cab. Tondano mengecam dan menyayangkan tindakan kekerasan yang dilakukan pihak Kepolisian dalam menghadapi aksi teman-teman KOPRA Sulut,” ujar Asterlita Raha yang akrab dipanggil Aster selaku Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan BPC GMKI Cab. Tondano, Senin (26/11/2018).

Aster menambahkan bahwa bentuk represifitas itu telah menambah daftar panjang kekerasan yang dilakukan aparat dalam menghadapi mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi di tempat publik, khususnya yang terjadi pada korban yang merupakan anggota GMKI Cab. Manado dan Tondano.

“Aparat Kepolisian  seharusnya mengayomi massa aksi, namun yang terjadi justru menunjukkan wajah anti-demokrasi, karena berulang kali melakukan tindakan sangat represif kepada mahasiswa,” tambahya.

Selama kurang lebih empat jam, massa yang menggelar aksi berhasil di redam setelah terjalin komunikasi perwakilan masa aksi dengan pihak kepolisian. Jendral Lapangan KOPRA Sulut, Alvian Tempongbuka mengkahiri aksi tersebut dengan melakukan pembacaan pernyataan sikap beserta tuntutan massa aksi.

Penulis: Yoshua Abib Mula Sinurat
Editor: Benardo Sinambela

Leave a Comment

Your email address will not be published.