Adaptasi Revolusi Industri 4.0 pada Organisasi Pergerakan Mahasiswa

Foto: Eliyah Acantha Manapa Sampetoding/Penulis. (dok. Pribadi)

Kilas Balik

Salah satu sejarah besar didunia adalah ‘Revolusi Industri’. Semua benda yang kita miliki dan pergunakan saat ini adalah hasil industri. Revolusi industri yang tampak dipermukaan akan berhubungan sama bidang social, ekonomi, dan politik. Revolusi industry dapat mendorong tumbuhnya demokrasi sisi positif nya dan sisi negatifnya adalah imperialism yang berlandaskan kekuatan ekonomi. Kisah revolusi industri awal sendiri merupakan fenomena yang terjadi tahun 1750 di Eropa [1]. Selama hampir 300 tahun, revolusi Industri sendiri sudah sampai ditahap ke-4 (4.0), yakni dimasa kini.

Gambaran Khusus 4.0

Selama hampir dua tahun ini, sering kita mendengar ‘Revolusi Industri 4.0’. Seperti yang kita ketahui Evolusi Teknologi pada era digitalisasi telah menyasar celah kehidupan manusia. Pada tahun 1990-an menjadi titik awal sejarah dunia yang melahirkan revolusi industry ke-4. Industri 4.0 adalah sebuah tren otomasi dan pertukaran data dalam berbagai teknologi [2].

Hal utama yang harus ada pada revolusi industri 4.0  IoT (Internet of Things), komputasi kognitif, komputasi awan, dan kemanan cyber. Hadirnya 4.0 akan memudahkan berbagai proses semakin cepat dan efektif, tidak perlu proses yang pancang. Awalnya apabila adaptasi, harganya mahal, tetapi seterusnya akan semakin murah dengan feedback yang didapatkan performa semakin tinggi.

Aktivis 4.0 ?

Organisasi Pergerakan Saat Ini masih model lama dan sudah usang. Beberapa aktivis mahasiswa yang tidak berlatar belakang Engineering dan/atau Computer Science kadang tidak memahami seputar industri 4.0 itu sendiri sehingga apa yang diucapkan menjadi salah arti dan sasaran.

Saat ditugaskan menyusun aspek manajerial, dokumen legal, administrative, survei, dan hal non teknis. Sebagai anak organisasi itu hanya cukup dikerjakan dalam waktu 3 hari saja dengan kondisi waktu 1 minggu oleh atasan. Sedangkan saat diberikan tugas coding dan menyusun program teknis aplikasi, hal tersebut justru membutuhkan waktu hingga 3 minggu. Hal ini dapat diambil kesimpulan bahwa, aspek Teknikal dibidang Teknologi justru lebih sulit dari Konsep oleh orang yang tidak mengetahui Hal Teknis mengerjakan proyek tersebut.

Jika melihat kondisi aktivis saat ini, sangat sedikit aktivis-aktivis pergerakan yang mampu mengerjakan setiap teknis teknologi. Aktivis pergerakan sangatlah hebat dalam retorika, klaim, ini sebuah paradigma yang salah. Coba kita minta setiap aktivis baik PP atau BPC, apakah mereka sanggup implementasi teknologi? Minimal konsep cara kerja dan SOP nya?

Teknologi harus diutamakan

Seharusnya tataran organisasi saat ini mulai fokus pengusaan teknologi dengan aspek “Technological dan Ekonomi” untuk pengutamaan dari ilmu. Tanpa mengurangi bidang ilmu lain seperti “Hukum, Sosial, dan Politik” yang tidak penting dari fokus teknologi. Hubungan ide inovasi kembali lagi dengan budget, semuanya itu masalah penyusunan prioritas.

Sebuah Sistem 4.0 dibicarakan “Optimasi”, jadi ada proses minimum (kader spesialis engineer) yang harusnya kita maksimalkan potensinya bagi organisasi, dan yang terbuang sia-sia (stok terlalu banyak) kita minimumkan dalam artian dilakukan pengembangan sisi teknologi pada kader. Jadi inilah yang perlu diputuskan dan dicermati oleh setiap stakeholder (Pengurus Pusat, Badan Pengurus Cabang, dan Pengurus Komisariat) di Organisasi.

Jadikan Sebuah Pembelajaran

Seperti yang kita ketahui, bahwa organisasi kita sendiri belum sama sekali menerapkan ‘4.0’. Data kader seluruh Indonesia tidak diketahui, data senior, maupun berbagai data yang diperlukan untuk menjadikan organisasi 4.0. Saat ini beberapa organisasi pelayanana mahasiswa sudah menerapkan data alumni secara terpusat (cloud) dan bahkan kerjasama dengan pembiayaan (Fintech dan E-Money).

Perlunya integrasi terpusat terhadap organisasi menggunakan internet of things dan memanfaatkan big data untuk mendata kader. Internet of things dapat digunakan untuk melakukan pendataan kader dan kondisi kader tersebut melalui terpusat. Selanjutnya, Big data dapat digunakan untuk memantau potensi-potensi kader di setiap cabang. Organisasi mampu bertahan apabila memiliki stok kader dari sisi kuantitas maupun kualitas nya.

Solusi ICT (Innovation Commercial Technology)

Pertama, Model kaderisasi disesuaikan dengan karakteristik dan wilayah yang berbeda beda setiap cabang. Aspek utamanya adalah Mahasiswa, Kristen dan Indonesia. Dimana harus memiliki kekuatan intelektual yang juga berkolaborasi dalam kemapanan kualitas kader dalam mendukung kemajuan untuk memecahkan masalah-masalah dimulai lingkungan social sekitarnya. Metodenya mengadaptasi PDSPK sesuai SPK (Sistem Pendidikan Kader) setiap cabang. Target kedepannya akan ada arahan program sosial menggunakan crowfunding dalam mencari pendanaan untuk melaksanakan nya.

Kedua, Kaderisasi yang sukses adalah pendataan kader-kader diseluruh cabang Indonesia, dengan memenuhi unsur 12 rumpun Ilmu (Kemenriset dikti). Sehingga pada jangka panjangnya GMKI mampu menyediakan berbagai kader yang dibutuhkan di dunia pekerjaan, industry, akademisi, entrepreneur dan social. Pemetaan potensi kader menggunakan aspek teknologi (data base), seperti habis mapper langsung input data kader (nama, foto, dan no kartu anggota). Setelah itu kader dipantau oleh cabang untuk ikut tahapan LO/LK (PDSPK) nya. Selain kualitas organisasi, kualitas keilmuannya juga dipantau oleh BPC, sehingga suatu saat nanti memiliki nilai jual (komersial) dan masuk diberbagai dunia pelayuanan masyarakat setelah mereka lulus (lulus ber-GMKI dan lulus ber-Kuliah)

Ketiga, menggunakan data base terpusat, sehingga Maper diperiode PP 2018-2020 nanti semua laporan kader baru diinput menggunakan teknologi (bisa pakai android atau web base), Sehingga benar-benar akan diketahui berapa jumlah anggota masuk per Cabang. Data sisfo nya menggunakan Framework sistem informasi, dimana setiap BPC per cabang memiliki akun khusus untuk input data setiap kadernya. Kader juga diajari pelatihan teknologi dan harus komputerisasi khususnya pembuatan presentasi, laporan-laporan, dan tata kelola IT. Sehingga kader bisa kuat dalam sisi teknologi (minimal mampu kuasai full Microsoft Powerpoint, Email, Word, dan berbagai hal lainnya).

Perkiraan budget jika berani ambil resiko demi peforma organisasi kedepannya, memang besar (jika stok kader Teknologi) terbatas untuk membuat aplikasi, konsep teknologi terhadap organisasi. Beberapa organisasi-organisasi dan perusahaan berani mengambil resiko demi masa depan cerah.

Refferensi:
[1] https://www.ajarekonomi.com/2018/04/melihat-sejarah-lahirnya-revolusi.html
[2] https://mobnasesemka.com/apa-itu-industri-4-0/


Penulis: Eliyah Acantha Manapa Sampetoding (Antha) Ketua Bidang Aksi dan Pelayanan BPC GMKI Bandung M.B 2012-2013, S1 – Teknik Informatika, Universitas Telkom (Bidang Internet of Things), S2 – Ilmu Komputer, Institut Pertanian Bogor (Bidang Komputasi Pervasif)

Editor: Benardo Sinambela

Leave a Comment

Your email address will not be published.