Generasi Muda Kristen, Industri 4.0: Bangun atau Tidur?

Foto: Hardiono Arron Daud Unas/Penulis. (Dok. Pribadi)

Berbagi Buah Pikir

Industri 4.0 menjadi istilah yang sudah tidak asing lagi di dengar oleh generasi saat ini, dapat dikatakan istilah tersebut cukup “kekinian”. Para generasi muda yang selalu update informasi penting pasti tidak akan asing dengan istilah tersebut, apalagi Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) di dalam ruang diskusi kecil, Konperensi Studi Lokal (KSL) bahkan Konsultasi Nasional (Konas) pun istilah Industri 4.0 menjadi topik hangat untuk dibahas jauh lebih dalam. Salah satu opini sebelum tulisan ini dibuat juga membahas mengenai Industri 4.0, opini yang sangat menarik ditulis oleh Bung Eliyah Acantha Manapa Sampetoding dengan judul: “Adaptasi Revolusi Industri 4.0 pada Organisasi Pergerakan Mahasiswa”. Dalam hal ini, menurut hemat saya GMKI jelas membuktikan peran dan kepeduliannya sebagai organisasi yang hidup ditengah bangsa dan pemuda-pemudi Kristen  mengenai perubahan jaman dalam Industri 4.0.

Opini dalam tulisan saya inipun, hanya ingin sekedar menambahkan buah-buah pemikiran mengenai Revolusi Industri 4.0 dan apa peran dan langkah praktis generasi muda Kristen dalam setiap perubahan jaman yang tidak akan pernah berhenti. Tanpa mengurangi rasa hormat, ijinkan saya berbagi buah pikir tentang Industri 4.0 kembali namun dengan pemikiran saya pribadi dan berbagai sumber.

Bangun atau Tidur?

Dalam suatu diskusi kecil di kegiatan Pendalaman Alkitab (PA) GMKI Cabang Salatiga, saya mendapat kesempatan untuk berbagi menjadi pelayan firman. Topik renungan dan bahan diskusi yang saya bawa adalah mengenai Revolusi Industri 4.0. Diawal diskusi saya memulai dengan suatu pertanyaan “siapa yang baru pertama kali mendengar istilah ini?”, jawaban berimbang, artinya sebagian sudah pernah mendengar dan sebagian juga baru pertama kali mendegar.

Istilah Revolusi Industri 4.0 ini, memang jika dimaknai secara sederhana, kita harus memulai dengan mengartikan dari angka “4.0”, jika ada angka 4 pasti ada angka 3, dan seterusnya. Menurut saya itu tidak salah, karena memang Revolusi Industri 4.0 lahir dari 3.0, dimana industri pada generasi ke 3 ini lahir dari tahun 1969 ditandai dengan lahirnya teknologi computer dan automation.

Revolusi Industri 4.0 merupakan industri yang dapat ”mempertemukan” teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber, yang dimana akan menjadi tren otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi manufaktur. Revolusi Industri 4.0 menurut hemat saya adalah bagian dari perubahan jaman dan perkembangan teknologi yang akan terus maju. Sehingga, jika teknologi dalam perubahan jaman akan semakin berkembang. Bagaimana dengan sang pengguna teknologi ? Apakah akan menguasai teknologi yang semakin maju atau ada ditempat yang sama, membiarkan diri dikuasai oleh teknologi? Generasi muda Kristen bagaimana menyikapinya? Bangun dan melihat serta mengerjakannya, atau masa bodoh kemudian tidur dalam teori yang menjadi mimpi?

Sebagian kecil dari Alkitab

Dalam Kejadian 1:28 tertulis: “Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak: Penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Sehingga dari ayat tersebut  menjadi cermin sikap Kristiani yang juga bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan Allah kepada manusia. Pengaruh kekristenan dapat  mendoronglahirnya kebaruan teknologi yang semakin berkembang tentunya dengan bertanggung jawab atas ilmu pengetahuan yang Allah beri untuk menggunakan tekologi tersebut.

Sama juga dengan yang tertulis di Amsal 1 ayat 7a: “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” Perkembangan teknologi juga sebenarnya sudah ditunjukkan Tuhan dalam kisah Nuh (Kejadian 6). Allah memerintahkan Nuh untuk membuat kapal, dan membuat diatas gunung, bagi orang banyak apa yang dilakuan Nuh adalah Hal yang mustahil dan gila, namun Nuh dengan kerendahan hati tetap melakukan pekerjaan Tuhan.

Dimensi ruang, cara pembuatan kapal, dan bahan yang menentukan adalah Allah sendiri.  Air bah turun, dan Nuh beserta keluarganya selamat oleh kapal yang dibuatnya, dan yang tidak percaya akan Tuhan tenggelam bersama Air Bah. Nuh mampu membuat suatu hal yang tidak pernah dipikirkan oleh orang lain, bahkan orang lain menganggapnya gila, namun Nuh mampu membuktikannya.

Dalam kisah Nuh kita diingatkan bahwa perkembangan jaman dan perubahan teknologi adalah suatu hal yang belum kita lihat sebelumnya, misalnya dijaman dulu, orang tua kita ketika merantau harus memberi kabar ibunya dengan mengirimkan surat, karena tidak ada handphone, namun saat ini sudah ada handphone yang canggih sehingga kapan saja bisa berkomunikasi. Selain itu, kisa Nuh juga mengingatkan kita untuk percaya dan mengandalkan Tuhan dengan pengetahuan/akal yang Tuhan telah beri.

Apa yang dikehendakki Tuhan?

Dalam Amsal 1 ayat 5 tertulis: “Baiklah orang bijak mendengar dan menambah Ilmu dan baiklah orang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan.” Dari ayat tersebut sudah jelas, sebenarnya bahwa Tuhan menghendaki kita untuk:

  1. Selalu dan terus membuka diri untuk tidak berhenti belajar dan senanantiasa menegmbangkan diri.
  2. Menambah Ilmu pengetahuan.
  3. Sebagai orang Kristen dan pemuda gereja untuk menerima segela perkembangan teknologi, termasuk Industri 4.0 dengan dasar iman Kristen, yaitu takut akan Tuhan.

Industri 4.0 untuk kemuliaan nama Allah, dalam Keluaran  35:30-36:1 mencatat bahwa Allah  menunjuk orang-orang yang telah dipilihnya untuk membuat segala keperluan untuk membangun bait Allah. Kemudian Tuhan juga memperlengkapi mereka dengan segala keahlian, pengertian dan pengetahuan dalam segala pekerjaan untuk membuat segala rancangan tentang bai Allah.Allah memberi rohnya untuk membuat mereka mampu menyelesaikan pembangunan bait Allah seperti yang difirmankanNya. (Ayat 31).

Perkembangan teknologi seharusnya semakin menyadarkan umatnya dan kita sebagai generasi muda Kristen, bahwa Allah telah mempersiapakan segala sesuatunya baik untuk kita anak anakNya.

Perkembangan teknologi dalam dunia Industri 4.0 juga mengingatkan kita bahwa Allah menujukkan kemurahnnya bagi kita anak muda di era saat ini dengan segala dampak positif yang kita peroleh. Nah, seharusnya kita sebagai pemuda Kristen harus dewasa dan semakin bijak dalam penggunaan teknologi di Dunia Industri 4.0.

Generasi Muda untuk Bangsa

Presiden Jokowi dalam berbagai sambutannya sudah mengingatkan masyarakat Indonesia tentang Revolusi Industri 4.0. Sebagai anak muda bangsa dan juga sebagai generasi penerus, kita harusnya bersyukur dengan pemikiran Presiden Jokowi tentang dinamisnya perkembangan teknologi dalam Industri 4.0. Dalam beberapa artikel banyak menuliskan tentang Jokowi dan Industri 4.0. Ada beberapa judul yang menarik seperti: “Jokowi: Making Indonesia IR 4.0” dan “Jokowi: Industri 4.0 justru membuka lapangan pekerjaan baru”.

Keterbukaan dan keterlibatan pemerintah sangat dibutuhkan, sehingga organisasi yang agile menjadi culture yang harus diterapkan dalam setiap tubuh pemerintah (dalam kesempatan lain saya akan menulis tentang: “Sudahkah Agile Organization ditubuh kepemerintahan Revolusi Mental?”).

Jika saya boleh dapat menggambarkan kembali (sebelumnya ditulis oleh  Rhenald Kasali dalam Buku “Change”) mengenai perubahan yang dihadapi dunia usaha Indonesia.

Bidang Perubahan Era Pemerintahan
Soeharto Pasca Soeharto
Informasi 1. Dikendalikan Negara (Informasi Assymetry)

2. Lembaga Sensor Pers

3. Tidak bisa ditembus secara fisik

1. Bergerak bebas (demokratisasi informasi)

2. Tidak ada sensor pers diselesaikan melalui proses pengadilan

3. Dapat ditembus melalui teknologi komunikasi (internet)

Dari table tersebut saya berpendapat  kita harus jauh lebih bersyukur, karena kita ada di era pemerintahan pasca Soeharto, dimana aspirasi kita melalui media informasi bergerak begitu bebas. Kita dapat menyampaikan gagasan, buah pemikiran, aspirasi melalui teknologi dan tanpa harus dikendalikan oleh Negara. Sehingga amat disayangkan jika kita sebagai agent of change hanya memeluk guling dan menutup telinga di tengah perubahan jaman seperti ini. Kitalah yang harus bangun dan bergerak serta memanfaatkan seluruh pintu peluang yang terbuka lebar.

Pemuda harus pandai dalam menggunakan teknologi, namun pandai saja tidak cukup, butuh berpikir kritis dan bertanggung jawab. Misalnya: Media komunikasi #Opini dalam website GMKI adalah salah satu wujud peran kita sebagai anak muda Kristen, untuk berkontribusi pemikiran dan gagasan melalui tulisan yang dapat dipertanggungjawabkan, dan kemudian dapat dibaca oleh masyarakat luas. Ini adalah hal kecil namun memiliki dampak yang besar dalam era terbuka seperti saat ini.

Harus Bangun!

Pemuda dan Mahasiswa di masa mudanya menurut saya ibarat tentara yang sedang mempersiapkan alat perang. Perang sesungguhnya nanti setelah lulus dan ketika bertemu dengan dunia kerja secara langsung. Maka dari itu, pada proses pengumpulan alat perang ini kita haruslah rendah hati untuk belajar dengan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja.

Dalam suatu acara pelatihan kepimpinan mahasiswa, saya medapatkan suatu pertanyaan yang menarik dari peserta, dia bertanya mengenai apa tantangan organisasi Mahasiswa/Lembaga kemahasiswaan saat ini. Panel diskusi saya mencoba menjawab dengan tantangan internal. Saya pribadi mencoba membuka wawasan dengan gagasan tentang tantangan eksternal.

Dijaman saya saat itu, sebagai Ketua Senat Mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, ada di era Masyarakat Ekonomi Asean 2015, saat ini sudah masuk lagi era dengan Istilah Industri 4.0. Tantangannya adalah bagaimana organisasi Mahasiswa/Lembaga Kemahasiswaan mampu mendorong mahasiswa lokal untuk bepikir global. Saya pribadi merasakannya saat lulus dan kemudiaan sekarang saya bekerja di salah satu perusahaan asing, dimana saya tidak hanya sekedar bekerja dengan orang Indonesia saja, ada juga dari Korea, Taiwan, Jepang, dan lain-lain.

Saya pernah duduk bersama mereka semua dalam kesempatan meeting membahas tentang Industri 4.0, kemudian saya presentasi didepan pimpinan tentang Industri 4.0. Kemampuan berpikir global harus dimiliki kita sebagai mahasiswa lokal, jika tidak kita akan ketinggalan. Memahami Industri 4.0 adalah salah satu rangkain untuk menuju berpikir global.

Lakukan dengan  hal-hal sederhana, dan saya yakin bahwa hal besar akan menunggu didepan sana. Mulailah dengan memanfaatkan teknologi dengan dewasa dan bijaksana. Generasi Kristen harus bangun dalam Revolusi Industri 4.0.

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5).


Penulis: Hardiono Arron Daud Unas Simpatisan GMKI, Mahasiwa Pasca Sarjana Magister Manajemen, Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga

Editor : Benardo Sinambela

2 Comments
  1. Handy Josandy 8 hours ago
    Reply

    Lagi nyari materi buat kuliah, malah mampir kesini. Mantep Arron tulisannya. Tuhan berkati!

    • Tim Medkominfo 8 hours ago
      Reply

      Thanks sudah mampir di web kita.

      Semoga bisa mengambil manfaat.

Leave a Comment

Your email address will not be published.