Hidup Dalam Era Yang Penuh Paradoks Berbahaya: “Kapitalisme Neoliberal” Menjadi Selubung Ideologis Bagi Proyek Globalisasi Ekonomi

Foto: Ruben Frangky Darwin Oratmangun/Penulis. (Dok. Pribadi)

GMKI.OR.ID, Jakarta – Rumah tangga kehidupan terancam dalam berbagai cara. Kita hidup dalam era yang penuh paradoks berbahaya. “Pasar bebas global” sebagai paradigma ekonomi neoliberal menimbun lebih banyak kekayaan material ditangan segelintir manusia dari pada yang pernah terjadi sebelumnya.

Proses penimbunan dan menciptakan kekayaan itu menjadi trend saat ini, telah menimbulkan ketimpangan besar-besaran dengan kecenderungan yang sangat menggoncang stabilitas perekonomian bahkan merusak sendi-sendi kehidupan.

Hak-hak manusia dirampas secara paksa oleh kaum yang dijuluki “tikus negara”. Kehidupan kaum miskin dikorbankan demi keuntungan orang-orang kaya. Orang kaya akan menjadi kaya dan orang miskin akan menjadi miskin.

Pertanyaan sederhana, dimanakah letak perbedaannya? Jawabannya ialah antara berada sehari dalam kelaparan dan sejam dalam kehausan, itu menurut Kahlil Gibran. Atau sejam dalam ketakutan dan semenit dalam kelegaan, mungkin itu menurut Anda dan saya.

Saat ini, terdapat -/+ 1,5 milyar penduduk planet kita kebanyakan perempuan, anak-anak dan penduduk asli hidup dengan kurang dari 1 dolar sehari atau setara Rp.15.000, saat 20% kaum terkaya dunia bertanggung jawab atas 86% konsumsi global barang dan jasa.

Pendapatan per tahun penduduk terkaya, yang berjumlah 1% sama dengan pendapatan 57% penduduk termiskin. Setiap hari 24.000 orang meninggal akibat kemiskinan dan kurang gizi. Masalah lingkungan seperti pemanasan global (global warming) perubahan iklim (climate change), penipisan sumber daya alam, terorisme, eksploitasi hutan, laut maupun tambang secara besar-besaran, dan punahnya keanekaragaman hayati (biodiversity) semakin parah.

Umpamanya kita akan kehilangan 30-70% dari keanekaragaman hayati dunia dalam kurung waktu 20-30 tahun ke depan. Amukan perang tidak mereda di belahan dunia, militerisme, terorisme, ekstrimisme serta kekerasan telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kita.

Krisis keuangan makin sering terjadi dan makin intens. Pengangguran meningkat mengancam mata pencaharian manusia, penyakit merajalela, dan tindakan amoral memblooming. Terpusatnya (centrality) uang dan standar moneter, ketika pertumbuhan ekonomi tertuju pada akumulasi modal, mengendalikan hampir setiap negara di dunia ini.

Pasar keuangan dan perusahaan transnasional secara sistimatis menjarah bumi demi kemakmuran jangka pendek. Keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi berbasis pasar perusahaan (corporate market-based) dapat menopang pembangunan adalah tipu daya (trick).

Faktanya sudah berkali-kali menyangkal keyakinan yang naif ini. Tekanan untuk mempertahankan kelayakan pinjaman atau kredit dan daya saing pasar global mencederai kehendak politik pemerintah untuk menciptakan dan mengimplementasikan kebijakan sosial, ekonomi nasional yang kuat.

Rusaknya jaring keamanan sosial, pemotongan pengeluaran di bidang kesehatan dan pendidikan serta lemahnya perlindungan ekosistem mencerminkan kenyataan bahwa pemerintah telah kehilangan kontrol atas keuangan, anggaran dan kebijakan mereka.

Setiap era ekonomi memiliki ideologi yang berusaha melegitimasi kebijakan dan praktik yang menguntungkan kepentingan yang dominan di zamannya. Ideologi tersebut datang dan pergi ibarat angin bertiup, karena cara pandangnya tentang kehidupan ekonomi dan sosial disaingi, dan pada akhirnya digeser oleh suatu ortodoksi (penerapan) baru.

Seperti halnya teori-teori yang pernah ada, mestinya setiap teori ekonomi yang baru benar-benar diuji dengan menggunakan standar keadilan sosial nasional dan dampak nyata sistemnya terhadap kehidupan kaum miskin dan terhadap kesejahteraan komunitas bumi, dan teori ekonomi yang dianggap gagal dalam ujian tersebut harus ditolak.

Hal ini merupakan kritik terhadap paradigma sistem ekonomi saat ini. Belum lagi permainan politik ideologi neoliberalisme yang mempromosikan dan melegitimasi pemusatan struktur-struktur kekuasaan multi-segi.

Neoliberalisme dimanifestasikan dalam “kapitalisme neoliberal” menjadi selubung ideologis bagi proyek globalisasi ekonomi memperluas kekuasaan dan dominasi melalui jaringan antar institusi internasional, kebijakan nasional, praktik korporasi dan investor serta perilaku perorangan yang saling kait-mengait satu sama lain.

Pada hakikatnya neoliberalisme membuat pemerintah nasional semakin lemah dan lebih mementingkan modal swasta yang dinamakan “pasar yang tidak terkekang” untuk mengalokasikan sumberdaya secara efisien dan meningkatkan pertumbuhan. Akibatnya, neoliberalisme menghapuskan fungsi negara sebagai penyelenggara kesejahteraan sosial.

Permasalahan semakin kompleks, belum lagi masalah mafia tambang, papa minta saham, bahkan penyalahgunaan kode etik, intoleran, dan lain-lain sebagainya, menjadikan kita bangsa yang tak bermartabat. Permainan dan perang dingin kaum elit politik membuat kita semakin skeptis dan galau hidup di negeri sendiri, ketakutan dan kemiskinan seakan-akan menggrogoti kehidupan kita.

Sudah siapkah kita hidup di era yang penuh paradoks ini? Jawabannya ada pada diri Anda dan saya.


Penulis: Ruben Frangky Darwin Oratmangun Sekretaris Fungsi Hubungan Internasional PP GMKI Masa Bakti 2016-2018, Direktur Utama PT. Bentive Papua Mandiri

Editor: Benardo Sinambela

1 Comment
  1. CHUHEHAS 3 weeks ago
    Reply

Leave a Comment

Your email address will not be published.