Melakonkan Jargon Damai

Foto: Yoshua Abib Mula Sinurat/Penulis. (Dok. Pribadi)

Prolog

Sirah Garuda mulai merunduk takluk. Kepalanya kecundang menoleh pembakaran rumah ibadah. Sayapnya yang dulu cegak bugar, kini tersungkup malu menutupi perisai. Sila-sila telah digerogoti oleh dosa kekuasaan. Kini, Sang Garuda menua, sayapnya tertatih mendekap semboyan Negeri. Kakinya mulai lunglai mengcengkram pita Bhineka Tunggal Ika. Saatnya, Garuda butuh gelora muda. Harapan dari pemuda yang kukuh berdiri di tanah Pertiwi. Bukan pemuda yang sigap menjargonkan damai melalui telepon pintarnya,  namun pemuda siap melakonkan perdamaian melalui tindakannya.

***

Tuan, “apakah anda pembawa damai?”. Sebelumnya mari saya ceritakan sebuah cerita damai berikut. Berjanjilah, setelah kuceritakan sebaiknya anda tak perlu repot lagi pergi ke toko buku, membolak-balik setiap lembar kertasnya, dan mencari teori-teori perdamaian, lalu pulang dengan khafalan penuh karangan teori damai. Pun berjanjilah anda tak perlu repot lagi menyaksikan acara di televisi, tak perlu repot  menyaksikan melulu konfllik banal disana-sini, perselisihan berujung kekerasan, perbedaan yang diartikan sebagai masalah dan lain sebagainya. Pun Tuan, jangan repot-repot pergi ke kedai kopi,  hanya seketika anda ingin berdebat memberi solusi dengan pokok bahasan yang anda bawa sengaja dari rumah, dengan sebuah pertanyaan “Kapan negeri ini bisa damai ?”. Sebuah pertanyaan yang akhir-akhir ini kemudian ramai diperbincangkan sambil minum kopi.

Percayalah di era virtual ini, facebook, twitter, instagram, line, anda dapat mengungkapkan kegelisahan dan masalah itu dengan mudah. Anda dapat berdiskusi online dengan tema perdamaian, memberi beberapa aturan diskusi, menentukan jadwal dan waktu, mengundang pembicara secara online, lalu terciptalah diskusi apik. Percayalah, anda tak perlu khawatir dengan peserta yang datang, acara yang ngaret atau sekelumit masalah teknis lainnya. Karena, setiap manusia kini telah menjadi user online yang lebih aktif dibandingkan dengan realita yang ada.

Atau anda dapat mengkonsepkan diri anda sesuai yang diinginkan. Dengan mengintrepretasikannya menjadi sesuatu yang anda posting. Dimanapun anda berada, baik ketika menunggu di restoran, di sela rapat padat atau sekedar mengisi waktu dalam kalutnya kemacetan, anda leluasa melakukannya melalui telepon pintar. Anda tiada bakal kekurangan stok isu. Sebab, ia melimpah ruah dan berdalih rupa dalam waktu sekejap. Tuntas mengucapkan perdamaian, tiba isu baru yang lebih dahsyat. Konsep diri anda sejalan dengan lalu-lalangnya berita yang bermunculan. Tak pernah berakhir hingga menjadi beban persoalan tanpa solusi.

Inilah zaman ketika lubang kesendirian yang kita gali di dalam telepon pintar dapat menjelma menjadi belantara sandiwara, dramaturgi yang berubah-ubah saban hari, dengan segala imaji diri yang palsu. Lalu, apa yang tersisa bagi pemuda dalam mengucapkan perdamaian ?. Usaha-usaha eksperimental dalam merancang tindakan damai, memang agak sulit tercapai di Negeri ini. Boleh jadi permasalahannya ialah kita masih terjebak di tengah kerumunan generasi yang hidup pada generasi Milenal (generasi yang lahir pada tahun 1980-2000), generasi yang masih prematur dalam melakonkan aksi, generasi yang lebih suka menjargonkan sesuatu di media sosial.

Namun, gagasan tetaplah gagasan, ia selalu berbenturan dengan ide baru yang di produksi oleh zaman. Pemuda tak boleh hidup hanya dengan sebuah ide yang ter-jargonkan namun tak pernah ter-lakonkan.

Bagaimanapun, gagasan-gagasan pemuda harus melampaui realitas, misalnya saja, tahun 2005, Mahasiswa Universitas Toronto menggagas Perang Bantal. Mereka yakin itu adalah perang paling damai sedunia. Cara liar dalam menularkan ide perdamaian.  Hanya berbaju “zirah” dan bersenjatakan bantal, para kombatan siap bertarung. Saling menyerang dan memukul, dan tak ada satupun yang marah. Seperti perang-perang lain yang digagas oleh mereka, konsep perang damai inipun menyebar ke seluruh dunia. Hongkong dan Taiwan, perang bantal kini sudah memasuki tahun ketujuh. Hingga tahun 2016, New York, Berlin, Zagreb, London dan seluruh kota besar di dunia pun mengikuti pada tanggal 2 April.

Bantal yang sama sekali tidak berprentensi untuk menghisap garis demarkasi ide, nyatanya mampu menembus rasionalitas. Bahwa bantal mampu me-metafiksional-kan makna bedil dan tameng yang berkonotasi senjata. Dalam konteks berbeda, Zirah prajurit yang berkonotasi sandang para militer, mampu memutar-balikkannya menjadi ide metafiksional sebuah “Piayama”. Lantas pertanyaannya, darimana para mahasiswa tersebut mendapatkan ide liar seperti itu ?

Dengan kata lain ide harus selalu menghadirkan tindakan, tentang apa “yang tak terpikirkan” menjadi “yang sangat di pikirkan”. Dari sanalah lahir etika politik yang baru, dan patut  diperhadapkan dengan kondisi Negeri yang masih berkelit-kelindan dalam memutuskan “gerakan lama” atau “gerakan baru” dalam konteks menghadirkan damai. Dalam hal itu gagasan harus melampaui realitas, dengan cara mengaktifkan rasio-rasio yang ada.

Upaya-upaya kreatif dalam melakonkan damai sangat mungkin terjadi. Pun dengan ide-ide baru, kedalaman refleksi dam keterampilan teknis yang layak diperhitungkan. Sebutlah, misalnya, Aksi Occupy (12/12/12) Mahasiswa Unsoed Purwokerto, juga menunjukkan upaya eksperimental kreatif serupa. Berbeda dengan aksi massa pada umumnya, ialah sebuah aksi yang lahir dari kondisi teralienasinya kondisi mahasiswa saat itu. Aksi yang menuntut uang kuliah yang mahal dalam sistem Uang Kuliah Tunggal. Seperti Occupy Wallstreet, ketika aksi mahasiswa menggunakan sekedar pakaian rumah dan kosan, membawa balon, beberapa bertingkah seperti badut, melakukan flasmob besar-besaran, menggaungkan lagu ciptaan yang kini tenar sebagai “Kiye Ukt”, layaknya karnaval. Alhasil sekitar 5000 mahasiswa, berhasil  menduduki gedung rektorat dalam waktu 5 hari, dan Rektor Unsoed menjadi tersangka kasus Korupsi. Tak ada kekerasan yang terjadi, upaya damai tetap menjadi aksi yang damai.

Eksplorasi imajiner dengan corak kebaruan dapat pula ditemukan pada Aksi Kemisan Bandung. Sekumpulan anak muda, tak terlalu banyak, berbicara tentang isu perdamaian tempo lalu. Menuntut keadilan HAM di Indonesia yang tak kunjung menemukan titik terang. Aksi yang konsisten di lakukan di depan gedung Sate Bandung bersama para korban HAM masa lalu. Dalam aksinya, para pegiat menggunakan kaos hitam, membacakan puisi, serta bermain musik. Aksi Kemisan berusaha menkontruksi pemuda kini bahwa sebuah aksi berbicara komitmen, kebenaran  tak bisa disampaikan dengan aksi sekedar momentum. Aksi yang mampu mengedukasi setiap elemen, bukan aksi yang memupuskan harapan masyarakat kepada pemuda.

Dalam konteks berbeda, usaha kreatif dalam melakonkan ide, Aldy, mahasiswa/pemuda Universitas Terbuka yang kini mengurusi Rumah Bapontar, suatu gagasan kreatif dalam menciptakan perdamaian bagi mereka yang berniat meninggalkan kehidupan kelam. Sudah 32 tahun, kediaman ini dijadikan tempat singgah untuk belajar keseniaan Kolintang. Banyak dari pesinggah yang belajar ialah dulunya bekas preman yang gemar mabuk-abukan dan berbuat onar. Bapontar yang berarti berkeliling dalam bahasa Minahasa, seakan mengajak kita untuk berkeliling membawa damai melalui Kolintang. Sekaligus juga, mengajarkan bahwa gagasan lahir dari residu kegelisahan terhadap sekitar, yang diproduksi dari akal kepedulian sosial.

Sekedar menyebut beberapa gagasan lainnya, upaya imajiner dengan gaya pembaharuan serupa dapat pula ditemukan pada aksi damai salah satu kreator dari Yogyakarta, Hermitianta dengan proyek Panganku-Panganku. Program tersebut bertujuan mewadahi jaringan pangan demi menghadirkan sistem pangan yang adil.

Masih di Yogyakarta, anda bisa cari dan temukan Padepokan Pemuda Pemudi. Kelompok yang digagas oleh dua pemuda yang berfokus untuk mengembangkan kemampuan skil anak-anak muda yang tak lagi sekolah atau putus sekolah.

Di Jakarta juga hal serupa dapat ditemukan. Adityo dan tim Up Cycling Jakarta yang menggulirkan program meningkatkan kemampuan anak putus sekolah dalam mengolah limbah.

Lalu ada Tri Handayani dari Bogor dengan tim Conserfahionnya, yang mengajak masyarakat agar melestarikan lingkungan.

Selanjutnya ada seorang remaja dari bernama Tresna dengan dokumen dan investigasinya mengenai jajanan lokal kota Bogor. Tresna menyimpulkan, proyek tersebut supaya panganan dan makanan lokal Bogor semakin dikenal masyarakat luas.

Usaha-usaha kreatif di atas dapat anda temukan di internet. Mulai dari program, tujuan, visi-misi dan cara kerja mereka. Usaha-usaha kreatif tersebut memang sangat jarang ditemukan, tetapi semestiny harus di galakkan.

Demikianlah semestinya peran pemuda di lembar sejarah negeri. Ia mempertimbangkan pengaruh yang tak hanya sekedar dinikmati setiap segmen, tetapi juga dapat teredukasi dengan baik oleh sebanyak-banyaknya segmen masyarakat. Selain itu, peran pemuda tak melulu mengisi ruangnya dengan aksi-aksi momentum, tapi memberi ruang kepada pada gagasan kreatif yang tecipta dari sebuah residu kegelisahan zaman. Maka, tunai pula tugas pemuda selanjutnya ; Pemuda yang tak sekedar mengucapkan perdamaian melalui jargon, namun pemuda yang mengucapkannya melalui lakon. Jayalah. Pemuda, jangan mati muda…(*)


Penulis: Yoshua Abib Mula Sinurat Sekretaris Fungsi Media Komunikasi dan Informasi PP GMKI M.B 2018-2020

Editor: Benardo Sinambela

Leave a Comment

Your email address will not be published.