Menjadi Terang: Bagaimana Mewujudkannya?

Foto: Rapco Tarigan/Penulis. (Dok. Pribadi)

Upaya Merefleksikan Kelahiran Sang Terang

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16)

Berbicara mengenai terang, saya teringat dengan sebuah lilin. Tentu lilin adalah benda yang sangat mudah dijumpai oleh banyak orang. Ketika saya bertanya kepada beberapa orang, “apa itu lilin?”, maka jawabannya pun beragam. Ada yang mengatakan lilin itu kecil. Ada yang mengatakan lilin itu mudah didapatkan. Ada yang mengatakan lilin itu harganya murah. Ada yang mengatakan lilin itu digunakan ketika listrik sedang padam. Tentu jawabannya setiap orang mengenai lilin berbeda-beda. Tidak ada yang salah mengenai jawaban mereka tentang lilin.

Terlepas jawaban orang berbeda-beda, namun ada tiga hal penting mengenai lilin yang tidak dapat dilupakan. Pertama, lilin itu berfungsi untuk menerangi di tempat yang gelap. Kedua, jika kita perhatikan lilin dengan teliti, maka kita akan melihat bahwa lilin melelehkan tubuhnya agar ruangan atau tempat yang gelap, terus mendapatkan cahaya atau penerangan. Ketiga, lilin itu dibutuhkan oleh orang-orang. Sebagian besar masyarakat Indonesia membutuhkan lilin ketika mati lampu. Menariknya juga lilin digunakan dan dibutuhkan ketika momen dan perenungan Malam Kudus di ibadah Malam Menyambut Natal.

Berbicara mengenai hidup dalam terang, kita perlu meneladani lilin. Pertama, di dalam kehidupan, kita perlu menjadi terang di tempat yang gelap. Misalnya saja, jika dalam lingkungan kantor ada yang melakukan korupsi, kita dengan tegas menolak tindakan korupsi dan tidak melakukannya. Kita menjadi terang di tempat yang gelap. Jika kita menjadi terang di tempat yang terang, maka terang dalam diri kita sama sekali tidak ada faedahnya. Kedua, dalam hidup ini kita perlu memperjuangkan kebenaran. Berusaha untuk tetap menghadirkan terang di tempat yang gelap. Sekalipun mungkin dicemooh oleh orang, karena dianggap sok suci dan lain sebagainya, tetaplah menjadi terang yang terus bercahaya. Ketiga, di dalam hidup ini, kita menjadi orang yang dibutuhkan oleh orang lain. Kita dibutuhkan karena perbuatan dan perkataan kita yang baik. Kita diberikan kepercayaan, karena memang diri kita layak untuk mendapatkan kepercayaan tersebut.

Dalam rangka Natal, Sang Terang telah lahir. Kelahiran Yesus membawa sukacita bagi orang-orang pada saat itu, baik orang-orang Majus dari Timur (Mat. 2:1-12) dan para gembala (Luk. 2:8-14). Orang-orang Majus dari Timur dan para gembalapun turut menyembah Sang Terang tersebut. Bintang-bintang di angkasa menjadi media pemberitaan kelahiran Sang Terang. Sang Terang itu lebih dahulu memberikan sukacita terhadap orang lain (orang-orang di sekitarnya). Bagaimana dengan kita sebagai pengikut Sang Terang tersebut? Apakah kita meneladani Sang Terang untuk memberikan sukacita kepada orang lain? Atau justru kita berdiam diri dan tidak menghadirkan sukacita tersebut?. Lilin Natal adalah simbol terang dari Allah yang membawa Damai Sejahtera.

“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga” (Matius 5:16). Bagaimana agar terang kita bercahaya di depan orang? Belajarlah dari lilin! Belajarlah untuk menjadi lilin, walaupun kecil tetapi sangat berharga dan dibutuhkan orang-orang untuk menerangi tempat yang gelap!

Doa Refleksi: (Doa dari Fransiskus Asisi).

TUHAN, jadikanlah aku pembawa damai.
Bila terjadi kebencian, jadikanlah aku pembawa cinta kasih.
Bila terjadi penghinaan, jadikanlah aku pembawa pengampunan.
Bila terjadi perselisihan, jadikanlah aku pembawa kerukunan.
Bila terjadi kesesatan, jadikanlah aku pembawa kebenaran.
Bila terjadi kebimbangan, jadikanlah aku pembawa kepastian.
Bila terjadi keputus-asan, jadikanlah aku pembawa harapan.
Bila terjadi kegelapan, jadikanlah aku pembawa terang.
Bila terjadi kesedihan, jadikanlah aku pembawa sukacita.
Ya Tuhan Allah.,
Ajarlah aku untuk lebih suka menghibur daripada dihibur.
Mengerti daripada dimengerti.
Mengasihi daripada dikasihi.
Bantulah aku, ya Tuhan, untuk membawa damai bagi dunia.


Penulis: Rapco Tarigan Anggota GMKI Jakarta, Student in Jakarta Theological Seminary

Editor: Benardo Sinanbela

Leave a Comment

Your email address will not be published.