Menjadi Gerakan yang Berjalan Menuju Kegelapan

Foto: Fransisco Jacob/Penulis. (Dok. Pribadi)

Dalam sebuah wawancara singkat, saya bertanya kepada beberapa responden tentang apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran mereka saat mendengar kata “gelap”. Responya bermacam-macam, ada yang mengatakan bahwa gelap identik dengan kejahatan, gelap adalah lambang keburukan, gelap adalah lambang keberdosaan, dll.

Tampaknya apa yang disampaikan oleh para responden ini adalah manifestasi dari pandangan yang tersebar luas pada masyarakat, baik itu pada masa kini atau pada masa lampau. Pandangan seperti ini muncul dalam berbagai macam segi kehidupan, Ia muncul dalam nilai-nilai kebudayaan, dalam relasi sosial, dan juga dalam tradisi keagamaan.

Dalam kekristenan, kegelapan selalu dihubungkan dengan kejahatan, sedangkan terang selalu dihubungkan dengan kebaikan. Kegelapan mewakili identitas iblis/setan, sedangkan terang mewakili indentitas Allah. Rasul Paulus menulis demikian:

8: Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, 9: karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, 10: dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. 11: Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu (Ef. 5:8-11).

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah “benarkah demikian?”. Apakah kegelapan seutuhnya merupakan keburukan, atau itu hanyalah sebuah konstruksi manusia? Benarkah bahwa kegelapan adalah sepenuh-penuhnya “jahat” dan terang adalah sepenuh-penuhnya baik? Jika kita mengatakan bahwa kegelapan adalah sepenunya jahat, maka Allah tak mungkin adalah kegelapan. Lantas mengapa dalam tulisan ini saya malah mengusulkan agar GMKI menjadi “gerakan yang berjalan menuju kegelapan”?

Sependapat dengan Rachel Muers – salah seorang teolog Quaker – saya meyakini bahwa manusia selalu terbatas untuk membahasakan Allah yang tidak terbatas. Oleh karena itu, anggapan bahwa Allah adalah sepenuhnya terang dan bertentangan dengan kegelapan adalah suatu ungkapan yang terbatas juga. Menurut saya, Allah adalah Sang Terang, sekaligus Sang Kegelapan (Muers 2004, 13-14).

Jika demikian, maka sangat penting bagi GMKI untuk mulai berteologi tentang kegelapan. Saya menawarkan bahwa GMKI harus mulai memberikan penekanan, atau memaknai Sang Kepala Gerakan sebagai Sang Kegelapan. Dengan memaknai identitas Allah secara berbeda, maka hal ini akan sangat berpengaruh terhadap praksis GMKI sebagai organisasi yang selalu bergerak. Pada bagian selanjutnya saya akan menunjukkan mengapa penting bagi GMKI untuk memaknai Kepala Gerakan tidak hanya sebagai Sang Terang, melainkan juga sebagai Sang Kegelapan. Akan tetapi, sebelum sampai di situ, sebaiknya saya mengajak kita untuk merekonstruksi kembali makna kegelapan.

Dalam tradisi Peranjian Lama, khō·shek’ (Ibr: חֹשֶׁךְ) adalah kata yang digunakan untuk menjelaskan tentang gelap, dan kata ini tidak selamanya berhubungan dengan yang jahat (Botterweck & Ringgren 2003, 245). Dalam kitab Kejadian, disebutkan bahwa Allah memberikan nama kepada kegelapan (Kej. 1:5). Dalam tradisi Yahudi, pemberian nama merupakan suatu hal yang hanya dilakukan oleh “yang berkuasa” kepada “yang dikuasai”, pemberian nama menunjukkan kekuasaan dan otoritas. Karena itu, ketika penulis Kejadian menyaksikan bahwa Allah memberikan nama kepada kegelapan, itu menunjukkan bahwa Allah memiliki otoritas atas kegelapan. Bahkan penulis Kejadian juga menunjukkan bahwa kegelapan memiliki peranan dalam pembentukan alam semesta (Botterweck & Ringgren 2003, 249).

Tidak hanya itu, berbagai macam teks dalam Perjanian Lama juga secara lugas menunjukkan bahwa Allah menjumpai ciptaan-Nya di dalam kegelapan. Kejadian 15:12-13 menceritakan bahwa Allah bertemu dengan Abraham di dalam kegelapan. Sedangkan dalam Mazmur 104:20-21 kita melihat bahwa kegelapan merupakan lambang dari kehidupan. Hal yang sama juga muncul dalam Ulangan 5:22-24. Penulis kitab Ulangan menyaksikan bahwa Allah berada dalam kegelapan. Bahkan kegelapan adalah manifestasi diri Allah. Melalui pertemuan ini, Israel diperhadapkan dengan pribadi Allah yang selama ini tidak mereka ketahui, yaitu kegelapan (Keck 1998, 338).

Sama seperti Perjanjian Lama, banyak teks dalam Perjanjian Baru yang juga menampilkan kegelapan sebagai “sesuatu yang baik”. Dalam Perjanjian Baru, kata Yunani yang digunakan untuk menunjuk pada kegelapan adalah nux. Berdasarkan The Dictionary of New Testament, kata nux memiliki makna ganda. Pada satu sisi nux (kegelapan) digambarkan sebagai “saat kemunculan Iblis”, tetapi pada sisi lain nux (kegelapan) juga disebut sebagai “waktu khusus bagi pewahyuan Ilahi”. Hal ini menunjukkan bahwa “Yang Ilahi” selalu mempergunakan nux (kegelapan) untuk menyatakan keiningan-Nya (Kittel 1979, 1123). Selanjutnya, tradisi-tradisi Perjanjian Baru juga menampilkan kegelapan sebagai sarana untuk seseorang dapat menjadi dekat dengan Allah. Dalam Injil Matius dan Lukas, Yesus dikisahkan bertemu dengan Sang Bapa di dalam kegelapan. (Luk. 6:12, Mat. 26:36-44). Dengan demikian, Perjanjian Baru menampilkan kegelapan sebagai titik perjumpaan antara Allah dengan manusia (Just 2003, 347).

Lantas apa urgensinya sehingga saya menawarkan bahwa GMKI harus menjadi gerakan yang berjalan menuju kegelapan?

Sebagaimana telah saya tunjukkan pada bagian sebelumnya, kegelapan adalah manifestasi dari pribadi Allah secara utuh. Oleh karena itu, berjalan menuju kegelapan sama artinya dengan berjalan menuju Allah. Dengan demikian, maka menjadi jelas ke arah manakah GMKI harus melangkah. GMKI bukanlah gerakan yang berjalan menuju senior, menuju pusaran kekuasaan, dan bukan juga menuju uang. GMKI harus menjadi gerakan yang berjalan ke dalam kegelapan karena di sanalah ia akan berjumpa dengan Allah. Di dalam kegelapan yang hehing dan sunyi inilah, GMKI dapat membangun percakapan yang mendalam dengan Allah.

Tentu saja apa yang saya maksudkan di sini bukanlah suatu ajakan untuk “melarikam diri dari dunia”, melainkan adalah ajakan untuk terlibat secara aktif dan total dalam dunia. Hanya dengan kesadaran bahwa arah perjalanannya menuju Allah, maka GMKI dapat bertindak benar dalam menghadapi segala macam persoalan yang terjadi di sekitarnya. Hanya dengan kesadaran bahwa arah perjalanannya adalah menuju Allah, maka GMKI – dalam setiap aktivitasnya – akan selalu bertanya “apa yang akan Sang Kepala Gerakan lalukan jika Dia berada di posisi yang sama?”.

Sebagai seorang Teolog, saya mendapat kesan yang kuat bahwa GMKI mulai lupa mengapa ia selalu dituntut untuk melakukan kebaikan. Mengapa GMKI membantu orang miskin, memberikan pendidikan politik, menolong janda dan duda, menolong orang kelaparan, menolong anak putus sekolah, mengapa demikian?

Secara jujur kita harus mengakui dalam banyak hal, tujuan GMKI melakukan kebaikan adalah agar GMKI selalu “dipermuliakan”. Tetapi apakah itu patut dibenarkan? Saya dengan tegas mengatakan “tidak”. Berangkat dari hal tersebut, maka sekali lagi saya menegaskan bahwa penting bagi GMKI untuk memaknai dirinya sendiri sebagai gerakan yang berjalan menuju kegelapan (Allah). Dengan memaknai dirinya sebagai gerakan yang berjalan menuju kegelapan, maka GMKI sekali-kali tidak mencari kemuliaan dirinya, tetapi melakukan semua pekerjaan bagi kemuliaan Allah. Dengan memaknai identitasnya sebagai gerakan yang berjalan menuju kegelapan, maka di mana pun Ia berada, entah di istana kepresidenan, di kantor DPR, di jalanan, di lorong-lorong sempit, dll, GMKI akan selalu menjaga integritas dirinya. Dengan mengingat identitas dirinya sebagai gerakan yang berjalan menuju kegelapan, maka GMKI bisa terus mempertahankan idealismenya tanpa bisa dikompromi dengan harta, jabatan, dan uang. Dengan memaknai dirinya sebagai gerakan yang berjalan menuju kegelapan, maka GMKI akan selalu terlibat dalam perjuangan melawan perdagangan orang, penindasan, ketidakadilan, dan kejahatan.

Daftar Acuan

Botterweck, Gerhard Johannes and Helmer Ringgren. eds. Theological Dictionary of The Old Testament. Rev. edition. (Grand Rapids. MI: Wm.B. Eerdmans. 2003).
Just, Arthur A. ed. Ancient Christian Commentary on Scripture: Lukas. 1st edition. (Downers Grove. Ill: InterVarsity Press. 2003).
Keck, Leander E. ed. The Ner Interpreter;s Bible: Volume II. (Nashville. Tenn: Abingdon Press. 1998).
Kittel, Gerhard. Ed. Theological Dictionary of The New Testament. Reprintes. (Grand Rapids. MI: Wm.B. Eerdmans. 1979).
Muers, Rachel. Keeping God’s Silence: Towards a Theological Ethics of Communication. 1st edition. (Malde. MA: Blackwell Publishing. 2004).


Penulis: Fransisco Jacob Anggota Biasa GMKI Cabang Kupang

Editor: Benardo Sinambela

Leave a Comment

Your email address will not be published.