114 TAHUN JOHANNES LEIMENA “LEIMENE DE DOMINEE “


Leimene De Dominee. Begitulah. Mendiami seisi kepala Seluruh kader GMKI sampai saat ini. Semacam pesona. Leimena adalah pengingat dimana makna politik adalah jiwa untuk pelayanan organisasi. Jujur tak banyak dari kita sempat bertemu bahkan dekat dengannya, atau mengenalnya secara personal. Di zamannya, ia punya nama besar. Seorang Dokter. Tokoh Gereja. Tokoh Masyrakat yang mendirikan Puskemas. Diplomat handal. Menteri terlama sepanjang sejarah Indonesia. Pendiri Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia.

Dia adalah dr. Johannes Leimena. Ia adalah anak seorang guru di Ambon yang karena susahnya kehidupan mendapat kesempatan mengecap pendidikan bermutu kala itu. Ia menjadi dokter setelah menamatkan pendidikan dokternya di “STOVIA”. Stovia (School Tot Opleding Van Indische Arsten) menampung pemuda-pemuda dari berbagai suku bangsa. Di sinilah Leimena mendirikan Jong Ambon yang membawanya terlibat dalam peristiwa peristiwa Sumpah Pemuda 1928.

Usai menyelesaikan kuliahnya, Leimena memutuskan untuk mengabdi sebagai dokter sesuai dengan bidang keilmuannya. Dia pertama kali diangkat menjadi dokter pemerintah Hindia Belanda di rumah sakit CBZ Batavia yang kini menjadi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Leimena tidak lama bekerja di sana. Saat Gunung Merapi meletus pada tahun 1930, dia pun ditugaskan ke Yogyakarta untuk membantu korban. Usai tugas di sana selesai, Leimena pindah ke rumah sakit Zending Immanuel di Bandung. Dia pun bekerja di situ sampai mendekati kemerdekaan Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Leimena masih menjadi dokter. Sampai suatu hari, Sukarno datang menemuinya dan meminta Leimena menjadi Menteri Kesehatan. Leimena menyanggupi permintaan Sukarno. Leimena menjadi Menteri Kesehatan dalam Kabinet Sjahrir II, ketika revolusi melawan militer Belanda berkecamuk. Di masa sulit itu, jangankan rakyat kecil, seorang dokter yang terpelajar dan harusnya punya uang seperti Leimena pun ternyata hanya punya sedikit pakaian.

Leimena bukan sekadar seorang dokter. Dia juga seorang pemikir yang moncer. Menurut buku Johannes Leimena: Negarawan Sejati dan Politisi Berhati Nurani, semasa menjadi menteri, Leimena bersama beberapa tokoh lainnya menggagas Bandung Plan pada 1951. Dalam Bandung Plan dicetuskan ide untuk mengintegrasikan institusi kesehatan di bawah satu pimpinan supaya lebih efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan.

Gagasan itu pun ditindaklanjuti dengan membuat Tema Work dalam pelayanan kesehatan pada 1956 dan kemudian terus dikembangkan. Dalam perjalanannya, integrasi institusi kesehatan yang hingga ke level kecamatan itu dikenal dengan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas). Pemikiran Leimena tentang kesehatan tertuang juga dalam Kesehatan Rakjat di Indonesia: Pandangan dan Planning (1955).

Selain merintis cikal bakal Puskesmas, sebagai politisi sejak muda, Leimena juga aktif di bidang politik. Pada 1945, dia turut serta mendirikan Partai Kristen Indonesia (Parkindo). Lima tahun kemudian, ia dipercaya menjadi ketua umum. Di masa Orde Baru, Parkindo difusi ke dalam Partai Demokrasi Indonesia.

Selain partai politik, dalam membina kaum muda, Leimena juga mendirikan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) sebagai organisasi pengkaderan pada tahun 1950. Kehadiran GMKI pun memberikan warna baru didunia pergerakan di Indonesia.


Penulis: Yoshua Abib Mula Sinurat

Leave a Comment

Your email address will not be published.