Bersama-sama Merawat Rumah Besar Indonesia

Foto: Putra Umbu Sangera/Penulis. (dok. Pribadi)

GMKI.OR.ID, Jakarta

Indonesia adalah sebuah negara dengan beragam keunikan. Salah satunya adalah polemik politik yang tidak ada habisnya. Indonesia juga menjadi rumah bagi 230 juta lebih pendudukanya, yang terdiri dari beragam suku, agama, ras, golongan dan pekerjaannya.

Sejak merdeka beberapa puluh tahun silam, bangsa Indonesia selalu berusaha untuk terus memaksimalkan kehidupannya yaitu terus bergerak maju sehingga dapat bersaing dengan negara-negara lain di dunia.

Perlu diingat, bangsa kita adalah bangsa yang pantang menyerah. Itu sudah terbukti dengan perjuangan para pendiri bangsa kita dahulu sehingga bisa merdeka dari para penjajah.

Itulah sesungguhnya potensi Indonesia. Meski sering kali banyak tantangannya baik dari pihak luar maupun dari dalam bangsa sendiri namun kita bisa mengatasinya.

Kearifan lokal, adat-istiadat yang kental, nilai kebersamaan dan gotong royong adalah sederet gambaran atau sifat dari masyarakat Indonesia. Anda dan saya berada di tengah-tengah kelompok masyarakat yang kaya akan “keberagamannya”. Meskipun berbeda dan beragam, kita ini tetap dalam sebuah “harmoni kesatuan”. Menurut pandangan saya hal ini unik dan ajaib.

Indonesia Menjamin Kebebasan Berpendapat

Negeri ini memiliki peraturan yang dipegang teguh oleh seluruh lapisan warga Indonesia, yakni di dalam UUD 1945 pasal 28E ayat (3) yang menyatakan, “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan pendapat”.

Kemerdekaan mengemukakan pendapat merupakan sebagian dari hak asasi manusia. Dan karenanya, negeri ini juga mengalami krisis yang saya beri nama self-nation communication crisis. Mari kita singkat menjadi ‘SNCC’ dalam opini ini.

SNCC, disebabkan oleh banyak faktor dan berpengaruh besar dalam menggiring opini sebagian besar masyarakat Indonesia.

Sebut saja beberapa kejadian 4 tahun belakang yang telah dilalui Indonesia. Misalkan baru-baru ini, yaitu Pilpres, kasus pembunuhan dan mutilasi sadis di beberapa daerah, hukuman mati terhadap pengedar narkoba, masalah Pilkada, pedofilia, pengeboman gereja-gereja hingga kasus korupsi terbesar E-KTP dan sederet kasus lain. Hampir tidak pernah luput dari reaksi publik, salah satunya menimbulkan aksi demonstrasi.

Demonstrasi Bukan Selamanya Pilihan Buruk

Aksi demonstrasi tidak boleh dianggap buruk. Tergantung tujuan dan metode pelaksanaanya saat di lapangan.

Perlu diketahui, ini adalah tindakan yang dijamin oleh azas dari kebebasan berpendapat di atas. Dan dampaknya yang mampu menggiring opini sebagian besar bangsa ini. Karena setelah aksi demo dilakukan, tekanan kepentingan akan langsung sampai ke kalangan politisi yang dituju atau kepada pembuat kebijakan, yaitu pemerintah.

Kemudian responsnya ialah, setelah aksi dan reaksi dari masyarakat ini sendiri, diharapkan dapat menimbulkan sederet kebijakan baru yang akan sangat berpengaruh pada kehidupan negeri ini di masa depan.

Selain kritis, jika dipandang dari sudut lain, ini juga menjadi kekuatan. Dalam sistem demokrasi, metode demonstrasi dalam rangka menyampaikan pendapat menjadi sangat populer untuk menggalang kekuatan politik dalam mencapai tujuan tertentu.

Masa Sekarang adalah Penentu Masa Depan

Ketika kita berbicara tentang masa depan, maka kita harus mulai mengusahakannya di masa sekarang.

Walapun ada sebagian kelompok masyarakat sudah mampu melihat dan berpeluang untuk mendorong Indonesia menjadi lebih baik, masih ada juga sebagian kelompok lainnya yang harus mendorong dirinya sendiri untuk mampu melihat peluang.

Self-nation communication crisis (SCC)adalah istilah yang saya pakai untuk mengingatkan kita, bahwa krisis komunikasi tidak akan berhenti jika kita tetap sibuk dengan diri sendiri.

Bangsa ini tidak bisa dengan sendirinya akan berubah, dan kehidupan kita juga saling terkoneksi satu sama lain, dalam harmoni kesatuan Bhineka Tunggal Ika.

Pertumbuhan ekonomi, sistem pengelolaan sumber daya, pendidikan, politik dan di sektoral lain harus terus tingkatkan. Demi terwujudnya Indonesia masa depan, yang mampu memberi kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakatnya.

Mari kita sebagai warga negara yang baik, yang sudah menggunakan hak pilih kita dengan baik di pemilu 17 April 2019 lalu untuk patut mengawal hasilnya dan mendukung jalannya roda pemerintahan yang dibangun oleh pihak yang menang.

Dengan terus mempertahankan obor persatuan dari generasi sebelumnya. Mari terus menghargai kekayaan perbedaan dan tetap menjaga rasa persatuan Indonesia.


Penulis: Putra Umbu Sangera (Kabid Akspel BPC GMKI Denpasar M.B 2018-2019)
Editor: Benardo Sinambela

1 Comment
  1. Alyuprayitno 4 weeks ago
    Reply

    Mantap

Leave a Comment

Your email address will not be published.