Dari Catcalling Hingga Hingga RUU PKS, PP GMKI Terus Kaji Persoalan Perempuan

Foto bersama GMKI dengan Komnas Perempuan dan YLBHI

GMKI.OR.ID, Jakarta – Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) dan GMKI Cabang Jakarta Barat gelar diskusi bertema Rape Culture, Pemerkosaan yang Dilumrahkan”. Sabtu (11/5/2019).

Pembicara yang dihadirkan, antara lain, Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin dan anggota Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Aprilia Lisa Tengker dan anggota GMKI lainnya.

Mariana menyebut, terdapat kesalahan yang sudah terbawa dari budaya jaman dahulu terkait  Rape Culture. Dia memberi contoh Catcalling yang lumrah di Indonesia. Mariana menjelaskan bahwa  secara lebih luas,  Catcalling  adalah bentuk pelecehan seksual yang dilakukan di tempat publik.. Catcalling sendiri adalah fenomena yang masih jarang sekali di teliti dan dibahas lebih lanjut. Oleh karena itu isu ini seringkali masih dianggap remeh, dianggap sebagai sesuatu yang akan dimaklumi. Seolah hal ini dianggap wajar sehingga perempuan harus memaklumi perlakuan tersebut perempuan diharap hanya mengabaikan, tetap berjalan, dan melupakannya begitu saja.

“Rasanya hampir setiap perempuan pernah mengalami situasi semacam ini. mendefinisikan catcalling sebagai siulan, panggilan, dan komentar yang bersifat seksual atau ga diinginkan oleh pria kepada wanita yang lewat”, ungkap Mariana.

Sementara itu Aprilia berpendapat, Undang-Undang yang seharusnya melindungi kaum perempuan pada saat ini sudah mulai ketinggalan. UU Nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, misalnya, belum cukup memfasilitasi perlindungan perempuan, padahal situasi dan kondisi berubah dan sudah banyak kasus terjadi yang belum terakomodasi oleh UU.

“Penegak hukum juga , tidak mengerti memperlakukan korban. Ada penegak hukum yang tidak mengerti pasal yang harus diterapkan bahkan hakim kadang tidak mengerti kondisi mental dan psikis korban,” kata Aprillia.

Pemerkosaan rape dan kekerasan seksual juga menurut Mariana, bukan hanya terjadi pada anak muda, namun orang yang sudah menikah. Mariana menjelaskan, pelecehan seksual juga terjadi pada perempuan menikah. Tindakan tersebut ialah dipaksa untuk melakukan hubungan suami istri pada saat menstruasi, bahkan saat setelah melahirkan pada waktu organ tertentu masih dijahit hingga akhirnya jahitan tersebut terbuka.

“Perempuan juga sering terperangkap pada stigma takut ditinggalkan, takut diceraikan, harus patuh atau tunduk pada suami apa pun dan bagaimana pun situasinya, padahal itu keliru. Pemikiran semacam itu justru membuat laki-laki semakin merasa mempunyai kuasa.” Lanjut Mariana.

Wakil Sekretaris Umum, David Sitorus juga menambahkan, bahwa korban dari Rape Culture juga perlu diperhatikan. Korban dari budaya ini semakin direndahkan dilingkungan sosial.

“kader – kader GMKI akan disiapkan yang terdepan untuk mengubah Rape Culture, bagaimana korban justru semakin direndahkan dilingkungan sosial akan menerima dalam pergaulan”, Kata David.

Melengkapi pernyataan itu, Ketua Bidang Pemberdayaan Perempuan PP GMKI M.B 2018-2020, Burju Silaban mengatakan bahwa Perempuan adalah obyek dan kedudukannya di bawah laki-laki. Yang satu (laki) merasa lebih berkuasa daripada yang lain (perempuan), hingga menyebabkan perempuan tidak berdaya. Laki-laki kadang dan bahkan sering berpikir adil dan bicara tentang adil terhadap perempuan, tetapi hanya sebatas itu, bukan action.


Penulis : Yowanda Yonggara, Sekretaris Fungsi Pemberdayaan Perempuan PP GMKI M.B 2018-2020
Editor : Abib Sinurat

Leave a Comment

Your email address will not be published.