Membongkar Pikiran Filsuf G. W. Hegel

Triwiningsi Am. (Foto/Pribadi)

Oleh: Triwiningsi Am*

Mengupas pikiran Hegel tentu tidak terlepas dari pikiran Kant. Pada kenyataannya pikiran Kant yang cukup radikal tentu menjadi pertentangan atas pikiran Hegel yang menjadikan Roh sebagai konsep utama sejarah. Sebagai pengantar, secara singkat kita perlu  memahami bentuk revolusi filsafat Kritis Kant di persimpangan jalan.  Oleh Kant dalam revolusinya menegaskan bahwa objek merupakan pusat orbit pencarian ilmu pengetahuan.  Secara esksplist dalam pikiran radikal Kant menjadikan subjek sebagai “objek Penyelidikan” yang memungkinkan seseorang mengetahui objek yang diluar dirinya dan lebih menekannkan pada kapasitas subyek dalam memperoleh pengetahuan.

Oleh Samuel Lusy dalam artikelnya menyebutkan bahwa proses revolusi yang besar ini, filsafat kritis Kant berhasil mendamiakan pertentangan antara rasoinalisme dan emperisme. Rasinalisme mengajarkan bahwa sumber pengetahuan adalah akal budi (rasio) dengan pijakan dasarnya “a preori” atau dikenal dengan pengetahuan rurni, sedangkan Emperisme mengajarakan bahwa hanya hal-hal yang bisa diindrai/sensible saja yang bisa dijadikan dasar pengatahuan. Artinya sumber pengethuanlah yang menjadi pengalamaan bukan sebaliknya.

Melihat ini kemudian Kant dengan cerdas mendamaikan dua persepsi tersebut dengan menggunakan pendekatan tiga level. Yakni level satu pemahaman Indrawi, level kedua akal budi, dan level ketiga budi atau intelektual. Dalam pengulasan Kant mengenai 3 level ini mengatakan bahwa pada level satu “Pemahaman Indrawi”  yang bisa ditangkap oleh pikiran manusia masih berupa fenomena-fenomena yang diserap oleh indranya dengan menggunakan aprori yakni forma ruang dan waktu. Artinya pada level ini seseorang baru menagkap data-data dan belum terjadi pengetahuan ia masih terbatas pada pengalaman semata. Sebagai contoh kita coba amati sekumpulan tanah liat yang dikumpulkan dibasai, dicampuri pasir hitam secukupnya dan ditempah atau diproses menjadadi cangkir, vas/pot bunga, bentuk hewan hiasan atau bentuk lain yang kita inginkan,artinya pada proses  ini masih dalam bentuk pengalaman bukanlah sebuah pengetahuan.

Selanjutnya dilevel kedua Kant menjelaskan bahwa data dan pengalaman diakomodir secara bersama dengan melibatkan kategori akal budi  sebagai Konsep dasar untuk memudahkan manusia memperoleh pengatahuan. Katakalah tana liat bisa dibentuk menjadi sebuah seni kerajian ketika tanah tersebut dicampurkan dengan air dan sedikit pasir pasir hitam, jika tanpa air dan pasir hitam maka tanah liat tidak dapat dibentuk menjadi sebuah cangkir misalkan.  Dengan demikian dapat dikitakan bahwa pengamatan indrawai melalui mengalaman menempah tanah liat tersbut menghasilkan sebuah pengetahuan.

Level terahir Kant menyebutnya sebagai Level intelektual yakni kemampuan tertinggi manusia. Dilevel ini, pengalaman yang ditangkap oleh indrawai manusia yang disebut pengalaman itu dan Pengetahuan sebagaimana disebtukan dilevel dua dirangkum dan dipandu oleh Jiwa, Dunia dan Tuhan. Sehingga pada level terkahir ini dapat kita asumsikan bahwa “tidak ada sesuatu pun yang kokoh dan abadi kecuali Tuhan” sebagaimanpun manusia mengakumulasikan pengalaman dan pengetahuan, Tuhan akan tetap menjadi ujung tombak dari semua proses tersebut.

Singkatnya Kant menyebutkan tujuan dari seseorang belajar adalah untuk pintar dan kepintaran itu adalah bagian dari  Intelektual yang mengandung unsur spiritual. Untuk menutaskan penyelesaian perdamaian dari  perbedaan Rasinalisme dan empirisme tersebut, Kant kemudian menuliskan dalam bukunya kritik der reinen Vernunft (Kritik atas Budi, 1781). Kant menggambarkan dua unsur-unsur apriori  dan metode deakltika transdental. Bahwasanya tidak semua pengetahuan berasal dari pengalaman  dan secara dialektika transdental terdapat tiga idea rasio yakni : idea jiwa, idea dunia dan idea Allah. Jika ketiga idea ini tidak memiliki hubungan dengan objek maka tidak dapat dijadika dasar pengetahuan.

Belum selesai sampai disini, untuk menuntaskan pikiran perdamainya Kant berusaha mendamaikan pemikiran diatas dengan memberika realitas sebagai subjek positivis. Namun usaha kant ini belum menui hasil yang maksimal dikarenakan  munculnya  aliran yang meradikalkan subjek dalam membentuk struktur realitas dari sisi Rasionalisme. Kant menampilkan sisi rasional dengan menggunakan idealisme Jerman yang mengandug unsur Spiritual. Satu diantara toko idealismetersebut adalah  G. W. Hegel.

Hegel lahir pada tahun 700an sebelum masehi, ia bersekolah dijurusan Telogi di Jerman dan mengabiskan waktunya untuk mepelajari kitab suci dan menuliskan beberap teks teologi. Salasatu tulisnya yang paling meguak dipermukaaan dan terus dibahas dalam proses dialektika  di ambil dari Kitab Yohanes 1:1  “Pada mulanya adalah Firman, Firman Itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”.  hingga diusianya yang ke 18 tahun ia memutuskan untuk pindah ke aliran filsafat. Apapun yang kemudian melatarbelakangi perpindahan  Hegel dari Teolog ke rana Filsafat pada dasarnya Hegel ingin menonjolkan ajarnya mengenai “Idealisme Absolut” sering juga disebut Fenomenologi Roh atau Roh yang absolut. Perpindahannya pun lantas tidak membuat Hegel melepaskan Jubah keilahiannya, pemikiranya tetap dikuti oleh pemikiran teologi.  Secara garis besar  konsep roh/spirit dan dealektika adalah ujung tombak pemikiran filsafat Hegel.

Dari pernyataan singkat Hegel mungkin kita akan bertanya melalui pertanyaan ontologis mengenai ada; misalkan apa itu ada? Apa kah ada itu ada? Lalu Hegel akan menjawab bahwa keberedaan segala sesutu baik manusia, tumbuhan dan alam semesta adalah Fenomena roh yang mendunia. Roh yang tengah mewudkan dirinya melalui manusia, tumbuhan atau alam semesta itu sendiri. Pada konteks kemanusian Roh itu adalah Tuhan  dan Tuhan adalah diri sejati kita yang tengah menyadarkan manusia bahwa  Tuhan menyatakan dirinya lewat Roh itu. Atas dasar Roh itu ada dalam diri manusia maka apapun yang dilakukan oleh seorang manusia maka itu adalah representasi dari Roh itu sendiri, sebab manusia hanya wayang yang mengikuti gerakan Roh Itu dalam Bahasa Teologis menyebutnya sebagai otoritas Tuhan. Munculnya pemikiran hegel ini kemudian menimbulkan berbagi macam pro dan kontra dikalangan para filsuf dimasa itu.

Secara hirarkis filsafat Hegel ini dipengaruhi oleh tiga gerekan intelektual, yakni Imanuel Kant, Kekristenan, khusunya Perjanjian Baru, dan pandang sikap Hegel. Pengaruh seperti apa yang kemudian dimunculkan oleh ketiga intelektual ini sudah dijelaskan diawaal paragraf mengenai Kant dan bagian Paragraf mengenai Pemikiran Hegel pada ayat kitab Yohanes 1:1. Baik Kant maupun Hegel dalam proses menjermahkan Pemikiran mereka, keduanya sama-sama menggunakan proses dealektika sebagai model dialog. Sayangnya bentuk dealektika yang dibangun oleh mereka bertolak belakang.

Jika Descartes menggunakan sikap kontemplatif (cara hidup yang mengutamakan kehidupan penuh ketenangan, bermati raga, dan bertapa dalam doa) untuk mengoprasikan metode penyangkalan radikal demi menemukan realitas sejati, maka berbeda dengan Hegel. Hegel malah menggunakan proses dealektika. Dealektika merupakan pertentangan Radikal antara pengiyaan terhadap sesutu dan pengingkaranya terhadap sesuatu. Dalam proses ini Hegel menyebut sejarah sebagai bagian dari perjalanan Roh mutlak yang menyadari dirinya dalam proses menjadi dan proses dialektika antara ada dan tiada (ya dan tidak) yang disebut dengan tesa (ada) –antitesa (tidak ada)– sin tesa (menjadi)-antitesa-sintesa-antitesa dan seterusnya. Logika sederhananya adalah ketika kita bicara ada maka pasti ada ketiadaan, jika kita bicara malam sudah pasti ada siang, ketika bicara senja pasti ada fajar, pun ketika kita bica kawan pasti ada lawan, jadi semunya berlawanan.

Melalui teori dealektika ini Hegelpun menjelsakan kembali tentang sejarah, dimana sejarah berjalan melalui pertentangan antara ada dan tiada dan menjadi. Bagi Hegel sejarah adalah realitas yang tetap dan  merupakan Roh mutlak yang ada dalam proses menjadi dengan berproses pada tiga tahap  subjektif (tesa) roh mengenalai dirnya dalam alam,  Objektif (antitesa) kesdaran fenomologis  roh dibedakan dari alam,  dan Mutlak (sintesa) penjelmaan dari kemasyarakatan, hukum dan kebijakan dan Negara disebut Hegel sebagai Roh tertinggi. Tahap ini merupakan tahap paling puncak sebab disini tidak ada lagi pertentengan demi pertentangan.

Bicara realitas Hegel membedakan menjadi dua bentuk realitas,yakni abtrak dan konkrit. Jika pada umumnya orang menganggap bahwa berpikir konkrit itu menyimpulkan susuatu karena dilihat dan diraba secara langsung pada waktu dan tempat tertentu. sedangkan berpikir abstrak itu sesutu yang yang tidak bisa dihindari, bersifat umum, imajinatif atau hanya ada dalam hayalan semata dan sejeninya.

Pernyataan diatas dibantah oleh Hegel, baginya berpikir konkrit dan abstrak itu adalah kebalikan dari maksud diatas. Baginya  Berpikir konkrit adalah berpikir menyeluruh, sedangkan berpikir abstrak hanya terikat pada satu momen dari realitas keseluruhan. misalkan kita melihat kumpulan biji-bijian yang disemaikan ditanah, orang yang berpikir abstrak hanya akan beranggapan bahwa itu hnya biji yang kebetulan atau sengaja disemaikan tanpa berpikir itu biji apa dan akan menghasilkan pohon apa tapi orang yang berpikir Kongkrit akan melihat secara keseluruhan, bentuk bijinya,biji apa, dan akan tumbuh seperti apa serta bagaimana bentuk pohonya kelak. Contoh lain misalkan seorang Nenek tua yang mencuri Ubi, lalu atas perbuatan tersebut bagi orang yang berpikir asbtrak akan memenjarakan si Nenek tetapi orang yang  berpikir berpikir Kongkrit tidak langsung memenjarakannya, mereka melewati proses menganilisa terlebih dahulu mengapa si Nenek tersebut bisa mencuri, apakah karean ia kelaparan atau didikan orang tuanya sedari kecil yang kurang mendidik ataukah ada factor lain yang menyebabkan si Nenek Mencuri. Artinya pada pemikiran Konkrit seseorang tidak hanya mengkap sesuatu oleh indranya saja, akan tetapi kebijaksanaanpun diperlukan karena kalau seseorang melihat dari sisi abstraknya saja maka orang itu sedang berpikir dangkal. Bagi Hegel orang yang terbiasa dengan pikiran abstrak itu adalah orang yang tidak terpelajar.  Jika disandingkan dengan Kant, Hegel lebih mementingkan Pengetahuan (intelktual) dari pada akal budi (verstand).

Membaca kembali pernyataan diatas, muncul sebuah pertanyaan pada tingkatan pengetahuan ala Kant atau Hegel, apakah hanya melalui pintu konkrit dan abstrak? Dan apakah ada proses dealetika yang tidak menggunkan cara pikir kongkrit dan abstrak? Jawabanya tentu semua proses berdiaatika termasuk alenasi, sebab semua akan bermuara pada tesa, sintesa dan antitesa, secara eksplisit mungkin lebih tajam akan dijelaskan melaui teori matarialisme dalam aspek ekonomi ala Marx. Bahwa kebenaran adalah sebuah kejadian yang diperoleh melalui dialektika.

Bertolak dari ini pula muncul beberapa pertanyaan tentang bagaimana kita bisa membatasi pemikiran Hegel pada lintasan Konkrit ketika seseorang kedapatan melakukan kesalahan atau menciptakan konflik. Tentu jawabannya adalah setiap peristiwa harus dilihat dari segi tesa dan sintesanya pada batas-batas tertentu mengapa masalah itu muncul. Semua peristiwa dilihat sebagai momen-momen. cara kerja sama seperti kita menggabungkan beberapa vedio dalam sebuh film, atau mengabungkan beberapa potongan gambar sebagai gambar yang utuh kemudian kita menyilpukan kira-kira bentuk film atau gambar seperti apa yang muncul. Namun jika berkaitan dengan masalah dalam lungkup sosial maka disini letak pengetahuan kita digunakan, bentuk aksi seperti apa yang akan kita munculkan harus sesui dengan pemahaman dan kebijksanaan.

Pertanyaan selanjutnya berkaitan dan abstrak dan konkrit ketika seseorang kedapatan bersalah dan masalah itu tidak dapat dibantah dengan apapun, atau sudah dikenakan pasal yang berlaku, haruskan orang tersebut dihukum, ataukah membiarkan ia bebas karena mungkin saja ia melakukan kesalahan karena alasan tertentu yang bisa dipikirkan secara bijaksana, Nah pada ini tentu Hukum menjadi Roh yang paling utama untuk menegakan keadilan, kita bisa memberikan hukum atas dasar kearifan, semisalkan seorang terosis yang sudah mengangkat sumpah bawah ia tidak akan membunuh tapi toh tetap membunuh. Artinya segala momen perlu direkam sepenuhnya sebab segala Sesutu ada sebab dan akibat.

Terakhir yang di sampaikan Hegel adalah mengenai keterasingan (Alenasi). Sebagai disebutkan Hegel Sejarah sebagai bagain dari Roh Mutlak. Maka disini kita akan menemukan berbagai macam keterasingan yang dimunculkan sesorang dalam mecapai Roh atau menjadi Roh itu sendiri. Tuhan telah mengasingkan dirinya dari Allah untuk menjadi Roh dialam semesta dan dalam diri setiap manusia, Ia mengasingkan dirinya karena Dia keluar dari drinya, ketika ia keluar dari dirnya ia bukan lagi dirinya, dan itu hanya dipahami secara nalar  seperti dibahasakan dalam teologi Bahwa Tuhan datang kedunia untuk sama seperti manusia dan harus ada yang dikorbankan demi kepentingan orang lain. Tuhan menyadari dirinya lewat alam semsta pengenal ini disebut sebagai idelisme murni. Pertanyaan kritisnya mengapa Tuhan harus mengenal dirinya apakah Tuhan sebelumnya tidak mengenal dirnya, bukah Tuhan itu sang Maha? Pada ini Tuhan ingin merasakan apa yang dialami oleh manusia.

Contoh Lain katakanlah Bunda Teresa seorang Biarawati yang mendedikasikan masa hidupnya untuk melayai anak yatim piatu dan orang miskin tanpa upah ia mengasingkan dirinya dari dunia yang mungkin saja tidak membutnya berpikir rumit dari menyibukan diri melayani. Kita bisa katakana bahwa apa yang menjadi pilihan Bunda Tersa tentu ada yang yang korbankan, materi, tenaga keluarga.

Pada tahapan alenasi atau keterasingan ini kita dapat menuliskan beberapa poin penting,  Bahwa alenasi Tuhan menunjukan kembali bahwa esensi sejati manusia adalah manusia itu sendiri. Dengan gerakan Roh disetiap aktifitas dan kesadaran manusia adalah roh mutlak.  Kisah roh menjadi Manusia bagi Hegel jelas memaparkan sebuah proses spiritual semesta kemudian individual tenggelam dalam Roh itu, sebab individu hanyalah wayang bagi Roh itu. Bertolak dari inilah hingga muncul kaum Hegelian kiri, seperti Marx, Feurbach dan lainnya yang menggunkan konsep Hegel Seperti dialektika, alieansi, dan proyeksi untuk melawan Hegel.


Tulisan ini berasal dari buah Pemikiran seorang Dosen (Guru Filsafat GMKI Salatiga)  yang dengan setia membimbing kami anggota  di Cabang secara khusus di Komonitas Filsafat. Tulisan ini merupakan rangkuman dari hasil Diskusi Filsasat mengenai Hegel pada tanggl 12 September 2019 lalu. Tujuan kemudian dibuatnya Tulisan ini adalah menjadi asrsip Komonitas dan cabang  sekaligus dibagiakan jika mungkin saja ada yang tertarik  belajar filsafat.

Singkat saja Komonitas Filsafat di Cabang Salatiga sudah dibentuk dan berjalan dari tahun 2018 hingga sekaranag,  sudah banyak sekali materi-materi mengnenai filsafat yang sudah disajikan, Mulai dari pengenanalan akan ilmu filsafat, sejarah Ilmu Pengetahuan, Abad Pencerahan, Fajar Renaissance, Konsep Platinus, Thomas aquinas dan masih banyak lagi. Semoga Tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.


Penulis: Triwiningsih Am (Ketua Bidang Akspel BPC GMKI Salatiga M.B 2018-2019, Aktif di Komunitas Filsafat GMKI Salatiga)
Editor: Benardo Sinambela

Leave a Comment

Your email address will not be published.