Reformasi Dunia Pendidikan Menuju Indonesia Maju

GMKI.OR.ID JAKARTA – Pendidikan merupakan aspek penting dalam memajukan sebuah negara. Pendidikan sangat penting dalam menciptakan generasi yang cerdas di masa depan. Disisi lain bahwa Presiden telah melantik anggota kabinet yang salah satunya adalah Nadiem Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Budaya. Terlepas dari pro dan kontra yang terjadi, terdapat banyak tugas yang perlu diselesaikan dan dicari solusi yang terbaik dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Fungsi Penelitian dan Pengembangan Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Almara Dwi Putra Sitompul dalam diskusi ‘Reformasi Dunia Pendidikan Menuju Indonesia Maju’ yang digelar oleh Pengurus Pusat GMKI, Kamis, 14 November 2019 bertempat di Student Center PP GMKI, Jl. Salemba Raya 10, Jakarta Pusat.

“Banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan dalam dunia pendidikan di Indonesia. Kalau kita melihat data secara nasional sangat miris karena rata-rata tingkat pendidikan masyarakat di Indonesia hanya sampai pada SMP kelas 2 semester 1. Ini merupakan kondisi nyata yang menjadi tugas dan tanggungjawab yang harus diselesaikan oleh menteri yang katanya mewakili kaum millenial dan tau apa kebutuhan millenial saat ini,” kata Almara Sitompul.

Kegiatan diskusi yang dilaksanakan oleh PP GMKI mendatangkan empat (4) narasumber yaitu James Modouw sebagai perwakilan pemerintah yang saat ini duduk sebagai staf ahli Kemendikbud, Eka Simanjuntak dari latar belakang konsultan pendidikan, Jimmy Paat pengajar Universitas Negeri Jakarta sekaligus pengajar LPTK dan juga Sabam Silaban pengajar dan motivator bidang pendidikan.

Dalam diskusi tersebut James Modouw Mengatakan bahwa dilakukannya perubahan dalam dunia pendidikan Indonesia adalah berangkat dari gerakan mengembangkan Investasi dalam rangka kesejahteraan tidak bisa tumbuh karena kualitas SDM yang diharapkan tidak dapat menjawab.

“Problematika saat ini berbeda dengan tahun 90an. Yang muncul sekarang adalah adanya loncatan besar dibidang teknologi informasi digital. Disebut sebuah perubahan teknologi secara radikal. Sehingga diperlukan juga perubahan secara radikal dalam dunia pendidikan Indonesia untuk pengembangan investasi Indonesia”, kata James Modouw.

Staf ahli kemendikbud bidang hubungan pusat dan daerah menyampaikan permasalahan yang terjadi dalam sistem belajar dimana output yang dihasilkan oleh LPTK tidak melihat kebutuhan yang sudah berkembang dan berubah dibawah.

“Jadi kalau berbicara reformasi dunia pendidikan, yang pertama kita harus mereformasi pembelajaran dan metodologi yang dikembangkan di LPTK. Kita harus kembali kepada basis pendidikan kita yaitu yang dimulai dari keluarga, lingkungan dan budaya”, tegas James Modouw.

Eka Simanjuntak yang menjadi narasumber dalam diskusi tersebut mengungkapkan bahwa secara kurikulum pendidikan Indonesia sudah cukup baik, namun permasalahannya adalah adanya gap antara yang merumuskan kurikulum 2013 dengan orang yang melatih guru.

“Perbedaan pemahaman antara yang merumuskan kurikulum dengan orang yang melatih guru dalam mengajar jadi salah satu masalah yang terjadi. Guru harus mampu membangun kesadaran berpikir dalam pembelajaran. Sekolah tidak membuat anak pintar, kepintaran seseorang adalah kapastias belajar lahiriah secara DNA yang disebut IQ. Yang sebenarnya sekolah harus lakukan adalah mengoptimalkan kapasitas yang dimiliki anak”, ungkap Eka.

Menurutnya yang juga adalah direktur willi toisuta and associates mengungkapkan bahwa dalam menghadapi persaingan global, Indonesia memiliki peluang dalam persaingan ekonomi dimana Indonesia akan mengalami dividen demografi yang harus dibarengi dengan produktifitas. Hambatannya adalah masyarakat Indonesia masih banyak yang membaca namun tidak paham dengan apa yang dibaca.

“Jangan sampai momentum besar dividen demografi yang dialami Indonesia pada 2030 hilang begitu saja akibat tingginya jumlah penduduk usia produktif tidak dibarengi dengan tingkat kemampuan produktifitasnya dan kita hanya bisa menyesali dibelakang. Hasil penelitian terakhir menyatakan 50 persen orang Indonesia masih functionally illiterate, bisa membaca tapi tidak paham dengan apa yang dibaca karena tidak memiliki kemampuan analisis”, pungkas Eka.

Pengajar LPTK Universitas Negeri Jakarta, Jimmy Paat menyampaikan pikirannya dalam diskusi tersebut dengan menyampaikan bahwa Pendidikan harus diawali dengan persoalan ethis, nilai dan relasi dengan manusia. Sekolah berfungsi untuk melawan masyarakat yaitu masyarakat kapitalis, sehingga dibutuhkan guru yang melawan pula.

“LPTK sekarang hanya menciptakan guru yang tukang ngajar bukan menjawab tantangan murid yang ada saat ini. Tujuan pendidikan adalah menciptakan respect kepada orang lain, ada etika, nilai dan relasi didalamnya. Filosofi Pendidikan Indonesia oleh Ki Hadjar Dewantara yaitu pendidikan yang memerdekakan, tujuannya ada di sekolah untuk melawan masyarakat yang konsumtif, pragmatis, praktis atau disebut semuanya itu adalah masyarakat kapitalis”, ungkap Jimmy.

Pernyataan yang sama juga diutarakan oleh Sabam Silaban yang mengatakan, problem pendidikan yaitu adanya perubahan cara pandang para remaja dan bahkan juga orangtua. Definisi sukses dari sudut pandang pendidikan perlu diperjelas.

“Apakah sukses dinegara maju yang dibayangkan oleh pemerintah saat ini hanya mengacu pada pendapatan per kapita atau bagaimana? Sehingga paradigma remaja dan orangtua saat ini hanya tertuju pada kesuksesan secara materi”, ungkap Sabam.
Sabam yang juga penulis buku Siswa dan Guru diatas Garis menyampaikan bahwa mata pelajaran agama gak perlu diajarkan di sekolah. Perlu ada pemisahan antara pendidikan scientivic dengan pendidikan agama.

“Agama itu iman, sesuatu yang tidak logika namun tetap harus diterima, tapi disatu sisi ilmu pengetahuan harus berlogika. Itu artinya orang gak pas kalo mau belajar agama di sekolah. Biarkan pengajaran agama diserahkan kepada keluarga dan gereja atau lembaga agama”, tegas Sabam.

Terakhir dalam diskusi yang dilakukan PP GMKI melalui bidang Litbang menyoroti tentang pendidikan Indonesia bahwa akan mendalami dan melakukan diskusi dengan semua mitra/stakeholder GMKI yang berhubungan dengan Pendidikan. GMKI akan mengolah dan mengkaji data serta hasil setiap diskusi sebagai rekomendasi perubahan pada sistem pendidikan Indonesia berdasarkan kebutuhan kedepan sesuai dengan visi Indonesia maju.

Leave a Comment

Your email address will not be published.