Ekonomi Meroket : Menunggu Godot?

Presiden Jokowi pernah berjanji pertumbuhan ekonomi akan meroket. Jokowi yakin ekonomi Indonesia tumbuh hingga 7%. Namun, hingga memasuki akhir tahun 2019, pertumbuhan ekonomi Indonesia belum pernah menyentuh angka yang dijanjikan. Timbul pertanyaan yang sangat mendasar di masyarakat: janji Jokowi itu akan terjadi atau malah seperti menunggu Godot? Godot adalah naskah drama karya Samuel Beckett tahun 1952 yang menunjukkan situasi menunggu sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin datang atau terjadi.

 

APBN tahun 2020 direncanakan sebesar 2500 trilyun. Pendapatan Negara dari pajak sebesar 1800 trilyun dan sebesar 300 trilyun dari non pajak. Total pendapatan negara sebesar 2100 trilyun, secara hitungan sederhana, menunjukkan bahwa untuk mencapai anggaran 2500 trilyun negara perlu menambah uangnya dari utang berkisar 400 trilyun. Utang luar negeri Indonesia per Oktober 2019 sebesar 5500 trilyun dan akan ditambah 400 trilyun dalam utang APBN tahun 2020, sehingga totalnya menjadi berkisar 5900T.

 

Pada tahun 2020 perekonomian Indonesia diprediksi akan menurun signifikan. Saat ini sudah menunjukkan penurunan walaupun belum sampai pada lembah terdalam. Sampai saat ini juga belum ada tanda-tanda yang menunjukkan perbaikan dari indikator makro ekonomi. Konsumsi domestik tertekan turun, utang luar negeri swasta bergerak naik dan transaksi berjalan semakin tertekan. Terjadi peningkatan utang luar negeri oleh BUMN sementara banyak BUMN yang belum berjalan optimal. Data BPS juga menunjukkan bahwa investasi menurun dan impor membengkak. Data tersebut diperkuat oleh data WEF Bank Dunia yang menunjukkan bahwa daya saing Indonesia tahun 2019 menurun.

 

Ketika ekonomi nasional melemah, beberapa daerah malah menaikkan UMR (Upah Minimum Regional). Perusahaan semakin diberatkan dalam pembayaran upah sehingga biaya produksi meningkat dan efeknya adalah menurunnya tingkat produksi. Dunia perbankan di Indonesia saat ini juga enggan mengeluarkan kredit karena NPL (Non Performing Loan) atau sering dikenal dengan kredit macet yang mengalami peningkatan. Growth kredit masih rendah sekitar 8,6%. Hal ini terbukti dengan beberapa bank yang sudah melakukan antisipasi dengan menambah cadangannya dan menurunkan pembagian deviden. Bahkan ada bank yang tidak membagikannya.

 

Kita tidak menginginkan kekecewaan terhadap Jokowi sampai membuat negara kolaps. Ekonomi itu bersifat eksklusif, dibutuhkan data dan analisis yang kuat. Perlu penanganan tersendiri secara serius dalam menyelesaikan masalah ekonomi. Masalah ekonomi merupakan pemicu dan dapat mempengaruhi secara signifikan terhadap dinamika politik sampai pada mengganggu kestabilan negara.

 

Perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional ini semakin diperparah dengan kondisi pertumbuhan ekonomi global yang juga melambat, ditandai dengan PDB dunia menurun. Harga komoditas ekspor Indonesia juga menurun. Ekonomi global berpotensi resesi ditandai dengan selisih yield suku bunga surat utang pemerintah AS tenor 1-2 tahun mengecil (inverted yield curve) menandakan risiko tinggi dalam jangka pendek. Mesin pertumbuhan eropa (Inggris dan Jerman) mengalami perlambatan dan Euro area industrial production turun hingga minus 1,6%. Juga terjadi pelemahan ekonomi Tiongkok (penurunan fixed asset investment, retail sales, industrial production growth) terendah dalam 17 tahun terakhir.

 

Contoh kasus kondisi ekonomi yang sama terjadi di Singapura. Singapura secara faktual perekonomiannya sedang hancur. Namun Singapura terselamatkan karena tidak ada yang sangka bahwa Hongkong dilanda masalah besar, kerusuhan yang tak kunjung selesai mengakibatkan investor memindahkan uangnya untuk diinvestasikan ke Singapura. Ini namanya adalah nasib baik. Apakah Indonesia harus menunggu dan mungkinkah mendapatkan nasib baik seperti yang dialami Singapura?

 

Investasi yang digaungkan oleh pemerintah sejak awal periode Jokowi memimpin sebagai Presiden hingga saat ini belum juga menunjukkan dampak yang signifikan dalam kontribusi bagi peningkatan perekonomian Indonesia. Faktanya saat ini adalah jalan tol dijual, bank-bank melemah karena pendapatan atas ekuitas (RoE) yang tidak sejalan dengan peningkatan biaya, mall dan pertokoan sepi karena pasar sudah berpindah menjadi pasar online. Perubahan radikal dari dunia usaha menjadi bisnis ekonomi kreatif berbasis digital tentunya menjadi bagian penting, bahwa pasar online menjadi solusi guna memudahkan dan memperkenalkan produk kreatif kepada konsumen baik nasional maupun dalam kancah internasional.

 

Sementara perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat tinggi dan segala hal memungkinkan dapat dikendalikan dari segala tempat melalui jaringan internet dengan perangkat gadget/smartphone. Pertumbuhan perusahaan unicorn sangat pesat. Namun kita harus sadar juga bahwa unicorn yang asli milik orang Indonesia hanya satu yaitu blibli.com, yang lainnya secara mayoritas adalah milik asing. Sehingga, uangnya juga akan lari ke luar negeri bukan ke Indonesia.

 

Namun oleh semuanya itu, terdapat beberapa solusi dalam mengantisipasi situasi ekonomi Indonesia saat ini. Solusi pertama adalah kemudahan regulasi. Solusi ini sudah cukup baik dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan membuat Omnibus Law yaitu penyederhanaan peraturan perundang-undangan. Contohnya adalah undang-undang Pajak dari jumlah Undang-Undang sebanyak 6 menjadi hanya 1 Undang-Undang saja. Solusi kedua adalah pertumbuhan diprioritaskan kepada daerah yang kaya akan sumber daya alam. Pembangunan merata di seluruh daerah, jangan jawa sentris. Solusi ketiga adalah menyangkut sumber daya manusia Indonesia. Peningkatan kualitas dan kapasitas manusia Indonesia yang termasuk dalam kategori angkatan kerja. Solusi terakhir yang perlu dimaksimalkan adalah penggunaan dana desa yang digunakan untuk meningkatkan kapasitas, produktivitas, nilai tambah dan daya saing perekonomian desa sehingga meningkatkan kontribusi perekonomian desa terhadap perekonomian nasional.


Oleh : Almara Dwi Putra H.M Sitompul, Sekretaris Fungsi Penelitian dan Pengembangan GMKI

Leave a Comment

Your email address will not be published.