RELASI ETIS MANUSIA DAN ALAM

Materi PA PP GMKI, Minggu 21 Februari 2021

 Oleh Roberto Duma Buladja

(Ketua Bidang Pendidikan Kader dan Kerohanian PP GMKI 2020-2022)

 

 

Kejadian 1:28 – Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka:

“Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

 

Pernah dalam sebuah kesempatan kongkow dan ngopi bareng, seorang kawan berucap tanya “Apakah berbagai kerusakan alam yang kian merajalela ini adalah bukti kerakusan manusia yang dibenarkan dalam teks Kejadian 1:28 itu?”. Pertanyaan ini sesungguhnya menstimulasi orang Kristen pada khususnya untuk mencari jawaban mendalam dan pamungkas. Betapa tidak, secara eksplisit, teks Alkitab tersebut nyaris melegitimasi perbuatan manusia untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi alam secara bebas.

 

 

Kenyataannya, debat seputar teks tersebut telah jauh hadir mewarnai komunitas kekristenan pada umumnya. Bila dicermati lebih jauh, pembahasan mengenai kisah penciptaan itu memuat pelbagai tafsir, debat bahkan narasi silang (kritik). Salah satunya datang dari Lynn White, seorang sejarawan Amerika dan kritikus etika Kristen. Dalam tulisannya The Historical Roots of Our Ecologic Crisis (1967), White berpandangan bahwa cerita penciptaan yang bersumber dari nilai-nilai kekristenan Alkitabiah memiliki peranan besar dalam degradasi lingkungan. Kekristenan dituduh sebagai agama yang bertanggung jawab atas krisis dan kerusakan alam. 

 

 

Pada prinsipnya, gagasan kritik White turut menyumbang terhadap pendalaman etika kekristenan dalam kisah penciptaan itu. Kekristenan semacam dituntut untuk melakukan kajian serius terhadap fondasi bangunan etika lingkungannya. Sebab, tidak sedikit orang yang salah mengartikan teks Kejadian 1:28 secara parsial. Pilah saja dua bagian utama, pertama beranakcucu dan penuhi bumi dan kedua taklukkan dan kuasailah bumi dengan segala isinya. Bila dipandang sepintas, ayat ini tampak memberikan keleluasaan bagi manusia untuk memuluskan langkah eksploitatif terhadap alam. Seakan membuka kran kebebasan yang amat besar bagi manusia untuk memperbanyak dirinya, menggarap dan membabat segala isi bumi.

 

 

Teks Kejadian 1:28 tidak lain merupakan mandat penciptaan (dominium terrae) yang diberiNya kepada manusia untuk menyelenggarakan seluruh aktivitas dan karyanya di bumi. Ayat ini juga menempatkan manusia pada posisi “istimewa” – “pusat” yang amat menentukan. Di posisi itulah, manusia sebagai citra Allah (imago dei) mengemban tanggung jawab luhur atas segala tindakan pengusahaan dan pemeliharaan bumi. Termasuk di dalamnya pemanfataan teknologi, sains serta atribut instrumentalis lainnya bagi pemenuhan kebutuhan praksis manusia. 

 

 

Sebagaimana pernyataan bernas seorang Mahatma Gandhi, bahwa “Dunia ini mampu menghidupi lebih dari 2 milyar manusia, tetapi tidak bisa menghidupi 1 orang manusia yang rakus dan tamak”. Rupanya hal ini sejalan dengan prediksi dari teoritikus Robert Malthus (1798), bahwa jumlah populasi manusia tidak berbanding lurus dengan ketersediaan kebutuhan pangan. Atau, haruskah kita berperilaku layaknya “si petani miskin dan seekor itik bertelur emas” seperti dikisahkan dalam fabel Arab itu? Tentu ketamakan dan keserakahan manusia menjadi sebuah ancaman serius bagi masa manusia sendiri.   

 

Sadar atau tidak, pemanfataan alam secara berlebihan justru menjadi bencana bagi manusia. Amati saja sejumlah bencana alam yang terjadi di Indonesia dua tahun ini, yang mana memperlihatkan dampak buruk keberlangsungan hidup manusia dan alam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB- lihat bnpb.go.id 29/12/20) merilis data bahwa dalam kurun waktu tahun 2020 telah terjadi 2.925 kejadian bencana alam. Didominasi oleh bencana alam hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bahkan di awal tahun ini BNPB melalui kompas.com (24/01/21) mengungkap sepanjang 1-23 Januari 2021 telah terjadi 197 bencana di Indonesia. Banjir, tanah longsor, dan berbagai bencana alam lainnya itu menelan 184 orang meninggal dunia, 9 orang hilang, 1.907.543 jiwa mengungsi, dan 2.777 lainnya mengalami luka-luka.

 

 

Memang tidak bisa dipungkiri, bahwa posisi Indonesia sebagai salah satu negara yang masuk dalam ring of fire atau ring of disasters (cincin bencana) menyimpan potensi fatal kebencanaan. Dahsyatnya bencana alam yang melahirkan kekuatan destruktif harusnya tidak bisa diabaikan. Lantas, apakah sederetan persoalan kebencanaan serta dampak yang ditimbulkannya itu harus diterima begitu saja? Haruskah manusia menyerah pada kehendak alam (bahkan menyalahkan Tuhan) dan menegasikan diri dari tanggung jawab etis merawat alam dan lingkungan? Yang jelas, perilaku konsumerisme yang didasarkan pada paham pengagungan manusia sempit (antroposentris) pada gilirannya menuai kecelakaan bagi manusia itu sendiri. 

 

 

Barangkali, hal serupa berlaku bagi hadirnya bencana non-alam – pandemi Covid-19 di awal tahun 2020. Tatkala manusia menampung derita, jeritan, serta kehilangan harta dan orang-orang tersayang, alam malah memulihkan dirinya. Di tengah keterbatasan aktivitas manusia oleh karena kebijakan pembatasan sosial dan lockdown, alam seakan menemukan momentum tepat untuk memperbaharui dirinya kembali. Ya, polusi udara berkurang, langit tampak membiru, rumput di lapangan kembali menghijau, air sungai terlihat jernih dan bening.  

 

 

Sejatinya, manusia telah diberi empat anugrah atau 4N, yaitu naluri, nalar, nurani, dan nala (Wilardjo, 2013) dalam mengemban mandat dan karya penciptaan secara berkelanjutan (creatio continua). Dengan kekuasaan dan pilihan bebas yang terberi, manusia mestinya mampu mengelola, mengusahakan, dan memelihara bumi dengan memusatkan cara pikir-tindaknya kepada Penciptanya (Christocentris). 

 

 

Sejalan dengan itu, penting untuk disadari bahwa posisi manusia sebagai “pengurus” (stewardship) selalu dan senantiasa bersama-sama denganNya untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan penciptaan yang berlangsung tanpa henti. Ya, mengubah keadaan kacau menjadi harmonis, memperbaharui relasi damai dengan sesama ciptaan lainnya, serta berpartisipasi aktif dalam misi Allah dalam memperbaharui segala sesuatu.      

 

 

 

Pertanyaan:

1.      Bagaimana posisi dan peran GMKI dalam merawat alam dan segala isinya di tengah hebatnya gaung akselerasi pembangunan?

2.      Bagaimana merumuskan langkah strategi taktis sekaligus etis dalam menyikapi kerusakan alam dan lingkungan sekitar kita.    

 

 

Get in touch with us

[contact-form-7 404 "Not Found"]

Contact Details

198 West 21th Street, Suite 721 New York, NY 10010

Phone: +95 (0) 123 456 789

nanoagency.co@gmail.com

Leave a Comment

Your email address will not be published.