Peringati International Women’s Day, PP GMKI: Kepemimpinan Perempuan Harus Punya Masa Depan Yang Jelas

Jakarta – International Women’s day yang diperingati setiap tanggal 08 Maret setiap tahunnya, dan hampir seluruh perempuan di dunia memperingatinya. International Women’s Day merupakan momentum untuk semua perempuan yang mengingatkan akan garis perjuangan kesetaraan di seluruh dunia. Pada tahun ini International Women’s day mengambil tema “Choose to Challenge”, tema itu diambil sebagai bentuk sikap bahwa kaum perempuan harus berani mengambil pilihan dan tantangan. Pesan yang ingin disampaikan dari tema ini adalah untuk melawan ketidaksetaraan, bias serta stereotip terhadap perempuan dan diharapkan dapat memberikan semangat yang positif kepada semua pihak, bukan hanya perempuan akan tetapi juga laki-laki yang menciptakan dunia atau lingkungan yang ramah akan perempuan.

Pada kesempatan ini juga Pengurus Pusat GMKI MB 2020-2022 bidang Pemberdayaan perempuan melakukan kegiatan Webinar dengan mengangkat Tema Kepemimpinan Perempuan dalam mencapai masa depan yang setara di dunia Covid-19, dengan pembicara dari Scholar Feminist Germany – Kartika Natalia Manurung, Co-Founder Masyarakat Diaspora Peduli Indonesia Jerman – Muliathy Briany, Ketua DPRD NTT – Emilia Julia Nomleni, serta Komnas Perempuan yang di wakili oleh Christina Yulita.

Hasil temuan survei online (daring) Komnas Perempuan tahun 2020 tentang “Perubahan Dinamika Rumah Tangga dalam Masa Pandemi Covid-19” yang berlangsung pada April hingga Mei 2020 mengidentifikasi bahwa kerentanan pada beban kerja berlipat ganda dan kekerasan terhadap perempuan terutama dihadapi oleh perempuan. Jumlah kasus yang terlaporkan di 64 lembaga layanan di 27 provinsi adalah sebanyak 1.299 kasus kekerasan terhadap perempuan, termasuk anak perempuan pada periode Maret sampai Mei 2020. Sebanyak 85% responden perempuan dengan penghasilan di bawah 5 juta per-bulan menyampaikan bahwa kekerasan yang mereka alami cenderung meningkat selama masa pandemi, terutama kekerasan fisik dan seksual dalam rumah tangga. Namun hanya sekitar 10% perempuan korban yang melaporkan kasusnya ke penyedia layanan semasa Covid-19. Sebagian besar memilih diam atau hanya memberitahukan kepada saudara, teman, dan/atau tetangga.

Kartika Natalia Manurung menyampaikan bahwa Partisipasi Politik Perempuan, penguatan ekonomi merupakan akses terhadap ilmu pengetahuan, dan untuk mendapatkan Pendidikan berkualitas dan gratis serta perempuan dalam fungsi strategis bukan domestik, ruang demokrasi dan ekspresi yang aman. Kartika Natalia juga sampaikan bahwa dari penguatan ekonomi, akses hubungan kerja yang setara, modal usaha dan business coaching, rekognisi terhadap kerja domestik, untuk memprioritaskan perempuan terhadap akses ekonomi, dan independensi perempuan sebagai entitas utuh. Hak asasi manusia dan demokrasi yang memberikan kebebasan mengeluarkan pendapat dan berorganisasi serta memberikan ruang yang aman bagi pemanusiaan perempuan, penghargaan, bebas dari kekerasan berbasis gender, dan support terhadap ekspresi serta karya perempuan.

Muliathy Briany menyampaikan bahwa pekerjaan yang dilakukan oleh para perempuan baik di dalam rumah maupun di luar rumah sangat sistem relevan dalam masyarakat. Namun, itu bukan berarti jalan perempuan untuk setara semakin mulus. Krisis yang menyerang sektor-sektor ekonomi berdampak sangat parah pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. Kesenjangan ekonomi antara perempuan dan laki-laki terjadi karena banyak faktor salah satunya karena perempuan banyak memilih karir dan pekerjaan yang tidak digaji dengan tinggi.

Kalau perempuan ingin lebih setara, maka perempuan perlu “terlihat“ dan menunjukkan bahwa ia ada di segala sektor pekerjaan, non profit atau pun profit. Hal ini jangan hanya baru dipikirkan di waktu duduk di perkuliahan, tetapi jauh sebelumnya, sejak kecil, perempuan dan laki-laki bisa belajar dan bekerja di mana saja jika ia mau dan sungguh-sungguh melakukannya.

Ditambahkan juga oleh Ibu Emy Nomleni selaku ketua DPRD NTT bahwa kepemimpinan perempuan dalam dunia politik juga mendapatkan banyak tantangan, namun itu dijadikan peluang yang baik untuk kepemimpinan perempuan. Kesiapan perempuan dalam menempati posisi-posisi strategis di pemerintahan dan politik juga harus dimatangkan dan di boboti sejak awal. Maka akan terbentuk Keterwakilan perempuan dengan kesiapan yang matang untuk mengisi posisi strategis di dunia politik. Perempuan pertama di NTT yang menjadi Ketua DPRD di NTT itu mengatakan bahwa menjadi perjuangan dan proses panjang untuk mencapai kesetaraan. Seperti apa keadaan hari ini merupakan cerminan proses dan langkah panjang diwaktu dulu. Baik perempuan maupun laki-laki diberikan kemampuan yang sama untuk memimpin.

Momentum hari perempuan internasional hari ini mengingatkan kita akan perjuangan perempuan dalam mencapai kesetaraan gender. Persoalan ketidakadilan, diskriminasi terhadap perempuan bukan masalah perempuan saja, tapi juga masalah laki-laki, sehingga ini perlu menjadi perjuangan bersama untuk membentuk masa depan yang setara dan adil tanpa diskriminasi terhadap siapapun dalam berbagai aspek, meskipun masih penuh dengan tantangan. Demikian kata Ketua Umum GMKI, Jefri Gultom, dalam sambutannya.

Leave a Comment

Your email address will not be published.