GMKI: Konferensi Pemuda Kristen Global Memberikan Pesan Perdamaian Bagi Indonesia dan Dunia

05 May 2017 14:08:11 || Penulis:PENGURUS PUSAT


JAKARTA, GMKI.OR.ID - Konferensi Pemuda Kristen Global (Global Christian Youth Conference) akan diikuti peserta dari 25 negara dan delegasi dari berbagai provinsi di Indonesia. Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak M. Jusuf Kalla akan membuka langsung kegiatan internasional pemuda yang diadakan oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia pada tanggal 23 April 2017. Kegiatan ini akan berlangsung mulai tanggal 23 - 26 April 2017, di Sintesa Peninsula Hotel, Manado. "Saat ini masyarakat Indonesia dan dunia sedang menghadapi berbagai persoalan intoleransi dan konflik seperti konflik etnis, agama, dan lainnya. Kegiatan ini kami gagas sebagai wadah bertukar pikiran bagi para pemuda lintas negara dan daerah tentang persoalan konflik yang sedang terjadi di tempatnya masing-masing," ujar Ketua Umum Pengurus Pusat GMKI, Sahat Martin Philip Sinurat. GMKI tergabung dalam Federasi Mahasiswa Kristen Dunia (World Student Christian Federation / WSCF) yang beranggotakan organisasi mahasiswa Kristen dari 90 negara di dunia. Turut hadir dalam kegiatan ini Sekretaris Jenderal WSCF Necta Montes dari Filipina dan Wakil Ketua WSCF Immanuel Kitnan dari Sri Lanka. Kegiatan ini juga akan diisi oleh para pembicara kunci yakni Menpora Imam Nahrowi, Kepala BNN Budi Waseso, Pdt. A.A Yewangoe, Pdt. Albertus Patty, Direktur Leimena Institute, dan Wahid Institute. "Para pembicara akan menyampaikan bagaimana menyelesaikan konflik, menjaga keberagaman, dan menciptakan perdamaian. Kemudian para peserta akan diajak mengunjungi beberapa tempat di Sulawesi Utara yang dapat menggambarkan bagaimana masyarakat Indonesia dapat hidup berdampingan walau berbeda suku, agama, dan golongan. Kita memiliki Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang menunjukkan bagaimana sebenarnya karakter bangsa Indonesia. Seharusnya Indonesia dapat menjadi contoh bagi negara lain untuk belajar tentang hidup harmonis di tengah keberagaman," kata Sahat. Menurut Sahat, kegiatan ini penting agar pemuda dapat menjadi oasis di tengah konflik yang saat ini sedang terjadi di berbagai kawasan dunia, seperti di ASEAN, Asia Timur, Timur Tengah, Eropa, Afrika, Amerika, dan bahkan di Indonesia sendiri. Pemuda harus menjadi mata air yang dapat melepaskan rasa dahaga perdamaian yang saat ini sedang dirasakan masyarakat Indonesia dan dunia. "Kita jangan hanya menjadi penonton ataupun mudah dipecah-belah oleh isu SARA ataupun berita hoax. Justru pemuda dapat menjadi inspirasi dengan memberikan solusi dan tindakan kongkrit yang menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat. Pemuda adalah motor penggerak untuk mewujudkan perdamaian Indonesia dan dunia," ujar Sahat.



Baca Juga