Membumikan Pancasila

03 Jun 2017 15:08:55 || Penulis:PENGURUS PUSAT


Tanggal 1 Juni 1945 merupakan momentum bersejarah bagi banga Indonesia dalam perjuangan menuju kemerdekaannya. Dalam sidang Badan Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK), Sukarno dengan sangat komprehensif menyampaikan pidatonya tentang gagasan dasar negara Republik Indonesia atau yang kita kenal sebagai Pancasila. Pancasila yang lahir dari perjuangan panjang serta penggalian yang sedalam-dalamnya dari realitas keberagaman bangsa itulah yang akhirnya disepakati menjadi philosofische grondslag dari Indonesia merdeka. Hingga saat ini, Pancasila sebagai proyek kebangsaan dapat dikatakan berhasil menjaga eksistensi dan peran vitalnya sebagai pemersatu bangsa. Indonesia dengan keberagaman yang luar biasa, tetap dapat bersatu dan terhindar dari perpecahan karena Pancasila dapat melakukan perannya sebagai perekat sosial. 

Namun, berkembangan paham-paham fundamentalisme ekstrim yang muncul belakangan ini tidak bisa dilepaskan dari hilangnya vitalitas Pancasila akibat kegamangan kita sebagai bangsa dalam menterjemahkan Pancasila. Kita pernah mengalami masa dimana Pancasila dijadikan alat oleh penguasa yang otoriter dalam melanggengkan kekuasaanya. Hal inilah yang menyebabkan Pancasila menjadi kurang populer dan tidak membumi di awal-awal reformasi. Pancasila sebagai dasar negara menjadi sesuatu hal yang mistik dan tabu untuk dibahas yang menyebabkan kita lupa bahwa Pancasila merupakan jiwa dan nafas dari perjalanan bangsa kita. 

"Tantangan terhadap Pancasila"

Perlu disadari bahwa ideologi-ideologi yang berkembang saat ini merupakan ancaman bagi proyek besar kita, Pancasila. Ideologi kita yang sebenarnya masih sangat relevan dalam menghadapi realitas kekinian ternyata mulai dilupakan oleh sejumlah komponen bangsa. Kebebasan berpendapat sebagai ekses dari demokrasi ternyata membawa dampak negatif, yaitu berkembangnya fundamentalisme ekstrim dan liberalisme ekstrim. Muncul pihak-pihak yang coba menggantikan ideologi Pancasila dengan ideologi-ideologi tersebut. 

Munculnya fundamentalisme ekstrim harus disadari sebagai akibat kurang membuminya Pancasila. Hal ini terjadi karena Pancasila pernah digunakan sebagai alat kekuasaan dengan tidak bertanggung jawab. Penerapan asas tunggal Pancasila pada era orde baru menyebabkan terjadinya mistifikasi Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung didalamnya menjadi kurang dipahami oleh masyarakat. sehingga muncul kelompok-kelompok yang anti kebhinekaan yang memicu munculnya tindak kekerasan atas dasar agama di tengah-tengah masyarakat. 

Perkembangan fundamentalisme ekstrim ternyata secara tidak langsung juga disebabkan oleh berkembangnya liberalisme di Indonesia. Liberalisme ekstrim ini menyebabkan Indonesia seperti kembali dalam keadaan terjajah. Ekonomi nasional dikuasai oleh pihak asing yang menyebabkan anak bangsa sulit bersaing. Sumber daya alam negeri ini dikuras habis oleh bangsa lain, sementara penduduk kita hanya bisa melihat. Akibatnya, muncul ketidakpercayaan sebagaian pihak terhadap ideologi Pancasila. Mereka merasa Pancasila hanya janji-janji manis belaka, sehingga mereka mencoba mencari ideologi baru yang dirasa dapat menghadang perkembangan liberalisme. Pilihan tersebut akhirnya jatuh pada fundamentalisme ekstrim. 

"Membumikan Pancasila"

Kita perlu menilik kembali sejauh mana Pancasila sebagai milik kolektif seluruh komponen bangsa dirasakan keberadaanya. Menjelang 72 tahun peringatan hari kelahirannya, kita harus menjadikannya bukan hanya sebagai bintang penunjuk tetapi juga sebagai sebuah realitas yang membumi. Melalui upaya-upaya pembumian yang masif, maka Pancasila akan menemukan jalan kebesarannya. Bung Karno pernah menyatakan bahwa tidak ada satupun Weltanschauung yang dapat menjadi realita atau kenyataan dengan sendirinya tanpa melalui jalan perjuangan. 

Membumikan Pancasila berarti kita harus memaknai kembali nilai-nilai Pancasila. Nilai-nilai tersebut harus menjadi jiwa dari setiap penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik dari dimensi hukum, politik, ekonomi, dan sosial budaya. Pemaknaan kembali ini akan bermuara pada terwujudnya janji kemerdekaan yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa ini. Janji kemerdakaan yang oleh Bung Karno digambarkan berada pada ujung jembatan emas. Pembumian yang masif akan mencegah munculnya paham-paham ekstrim yang mengancam persatuan kita.

Selain itu, Pancasila jangan hanya dimaknai sebagai instrumen pemersatu bangsa saja, akan tetapi lebih daripada itu. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila harus dipahami substansinya dan dijadikan sebagai sumber nilai dalam kehidupan berbangsa. Oleh karena itu penghayatan akan nilai-nilai tersebut harus terus menerus dilakukan sehingga muncul kesadaran bahwa Pancasila sebenarnya hadir dari nilai-nilai keberagaman kita. Hal ini akan mempererat rasa persatuan dan kesatuan kita. Setiap anak bangsa akan merasa bahwa Pancasila merupakan jawaban atas ancaman-ancaman terhadap kebhinekaan kita. 

Pada akhirnya, mengutip perkataan Presiden ke-5 Republik Indonesia yaitu “Pancasila akan dinilai, ditimbang dan menemukan jalan kebesarannya melalui jejak-jejak tapak perjuangan. Perjuangan setiap pemimpina dan rakyat Indonesia sendiri. Perjuangan agar Pancasila bukan saja menjadi bintang penunjuk, tetapi menjadi kenyataan yang membumi “.

 

Immanuel Simbolon (Ketua GMKI Cabang Semarang)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Diponegoro