Risalah Diskusi Kamisan III: Eksploitasi Terhadap Perempuan di Tempat Kerja

05 Jun 2017 17:33:20 || Penulis:PENGURUS PUSAT


GMKI.OR.ID - Eksploitasi didefenisihkan sebagai sesuatu yang dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain dan menimbulkan kerugian bagi orang yang dieksploitasi. Sebelum berbicara eksploitasi, dikenal yang namanya “pembedaan” atau diskriminasi. Diskriminasi (KBBI) merupakan pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama dan sebagainya). Diskriminasi dibedakan menjadi 2, yakni diskriminasi Positif dan diskriminasi negatif. 

Diskriminasi Positif atau dikenal dengan affirmative action, contohnya diskriminasi positif terhadap perempuan yang dipraktekkan misalnya terdapat gerbong perempuan di stasiun, memisahkan kelompok perempuan dengan laki-laki. 

Ketika sebuah perusahaan membuat recruitment, ada hal-hal yang dibatasi, misalnya tinggi badan, usia, berpenampilan menarik dll. Kebijakan ini kesannya biasa saja, namun sesungguhnya telah terjadi diskriminasi bagi mereka yang tidak memenuhi syarat itu, walaupun mereka tergolong ahli dibidang tersebut, memiliki loyalitas kognitif dan skill yang tinggi. Inilah yang disebut diskriminasi Negatif. 

Contoh lain yang sering dijumpai, misalnya seluruh buruh (laki-laki dan perempuan) diberi insentif untuk bekerja penuh selama satu bulan, perempuan mendapat insentif cuti haid dengan kondisi biologisnya. Kebijakan ini juga merupakan kebijakan diskriminatif. Karena pemberi kerja telah menyamakan kondisi biologis laki-laki dan perempuan. Dimana perempuan harus punya pengorbanan yang berbeda dengan laki-laki. Diskriminasi ini dikenal dengan diskriminasi tidak langsung. Diskriminasi tidak langsung merupakan kebijakan atau peraturan yang bersifat netral, namun diskriminatif ketika diterapkan dilapangan. 

Begitu juga dengan open recruitmen pekerja bar tender, dengan jam kerja pukul 23.00-03.00 pagi. Perempuan asumsinya ketika berkeluarga, punya anak, akan memiliki tanggungjawab yang lebih. Laki-laki dalam kondisi konstruksi budaya "patriarkhi" lebih mudah bekerja malam dibanding perempuan. Perempuan masih merasa tidak aman ketika harus bekerja di waktu demikian, yang walaupun itu bukanlah persoalan gender, juga bukan karena perempuan rentan, namun kondisi di luar tidak menjamin keamanannya yang merupakan tanggungjawab negara. Jika pemberi kerja memberikan insentif untuk berkorban lebih karena perempuan harus meninggalkan anaknya, maka itu adil. Namun, ketika pembayaran upahnya sama, maka terjadi ketidakadilan dan diskriminasi. 

Eksploitasi perempuan di tempat kerja pasti didahului dengan diskrimansi. Pertama, setelah dibedakan, ada perlakuan-perlakuan. Diskriminasi negatif selalu memberikan keuntungan kepada yang melakukan eksploitasi baik keuntungan langsung maupun tidak langsung, dan akan merugikan pihak lain (perempuan). 

Perburuhan kerja terbagi atas beberapa sektor, yakni sektor garmen, mental, migas, kimia, dll. Sektor garmen memiliki pekerja sebagian besar adalah perempuan. Pembayaran upah terendah dari beberapa sektor tersebut adalah sektor garmen, karena konon katanya pekerja garmen tidak butuh knowledge, resiko kerja dan biaya terjualnya rendah. Padahal sesungguhnya, setiap pekerjaan memiliki resikonya masing-masing dan cukup tinggi. Jika stigma yang muncul bahwa pekerja garmen tidak butuh knowledge, dapat dikatakan bahwa itu tidak benar atau pemahaman yang keliru. Skill bisa dilatih, namun pembuatan pola, pemilihan bahan yang tepat, mengoperasikan mesin jahit juga butuh knowledge

Stigma di mindset tentang perempuan lebih jelih, rapih, dibaca oleh pengusaha, yang berpikir bahwa pekerja garmen tidak membutuhkan knowledge, skill, resiko kerja rendah, akibatnya berimbas pada sistem penggajian. Sisi perspektif industrial juga memandang bahwa buruh perempuan tidak banyak mengeluh, dianggap lemah dan tidak berani. 

Kebijakan yang lazim dilakukan oleh kelompok pemilik modal kesannya biasa saja bahkan mendapat legitimasi dari berbagai aspek kehidupan. Padahal kebijakan tersebut hanya untuk kepentingnnya semata. Pada dasarnya, jika ada yang dirugikan dan satu pihak diuntungkan maka itu merupakan eksploitasi. Untuk mengetahui eksploitasi atau tidak, harus digali peristiwanya secara mendalam. Karena jika hanya sekilas, maka kita akan berpikir tidak terjadi eksploitasi. 



Baca Juga