Di Mesir, Ketum GMKI Jelaskan Dampak Radikalisme Agama

02 Aug 2017 17:12:35 || Penulis:PENGURUS PUSAT


Kairo, Mesir - GMKI.OR.ID - Ketua Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia, Sahat Martin Philip Sinurat diundang menjadi pembicara dalam kegiatan Youth Conference on Peace Building and Overcoming Violence in Middle East. Topik yang dibahas dalam sesi tersebut adalah "Radikalisme Agama dan Dampaknya Terhadap Mahasiswa, Bagaimana Kita Membangun Perdamaian?"

Dalam sesi tersebut, Sahat menyampaikan tantangan radikalisme agama yang saat ini sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Dunia pendidikan telah disusupi, dimana terdapat oknum-oknum guru, dosen, ataupun pengajar pelajaran agama yang menanamkan paham radikal kepada para siswa dan mahasiswa. 

Selain lewat pendidikan, paham radikalisme juga disebarkan melalui media sosial. Banyak ujaran kebencian, informasi hoax, dan propaganda negatif lainnya yang dikonsumsi secara terbuka oleh generasi muda. Anak-anak kemudian terperdaya dan percaya dengan paham radikal tersebut.

Sahat kemudian melanjutkan, ada empat konsensus yang disepakati masyarakat Indonesia yang beragam. Empat konsensus ini adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Konsensus ini mempersatukan bangsa Indonesia, walaupun sampai saat ini persatuan tersebut selalu mendapatkan percobaan dan tantangan.

Sahat mengajak para peserta yang berasal dari berbagai negara seperti Mesir, Sudan, Palestina, Yordania, Libanon, Irak, Madagaskar, Kenya, Perancis, Kuba, Kolombia, dan Kanada, untuk berperan aktif menjaga perdamaian dan persatuan di negara masing-masing.

Sahat mencontohkan para pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang agama yang berbeda secara rutin melakukan dialog dan kegiatan bersama. Sehingga terbangun hubungan emosional dan rasa memiliki di antara setiap organisasi. Selain itu para pemuda harus aktif menggunakan media sosial untuk berbagi ide dan kegiatan yang positif dan bermanfaat. Tujuannya agar para pemuda lainnya dapat terinspirasi dan tidak mudah terpengaruh dengan konten-konten radikal di media sosial.

Selain membahas topik tersebut, dalam kegiatan ini para peserta juga membahas tantangan menghadapi paham radikal di Timur Tengah, dampak revolusi Arab Spring terhadap generasi muda, persoalan Palestina-Israel, dan bagaimana menciptakan dunia, terkhusus masyarakat Timur Tengah yang rukun dan damai.

Para peserta yang hadir sebanyak kurang lebih 65 orang dan kegiatan ini berlangsung sejak tanggal 28 Juli sampai 5 Agustus 2017 di Cairo, Mesir.



Baca Juga