Perempuan Bertangan Besi di Utara Halmahera

07 Dec 2017 07:58:20 || Penulis:PENGURUS PUSAT


Suratmin Buolo (37) merupakan perempuan bertangan besi yang telah memperoduksi ikan asap  atau biasa dikenal dengan sebutan ikan fufu di Tobelo Halmahera Utara. Usaha untuk memproduksi ikan asap ini dimulai sejak awal tahun 2007. Mulai tahun 2007 Suratmin memperoduksi seadanya dengan kondisi terbatas alat untuk memproduksi ikan asap ini dalam jumlah yang banyak. Suratmin hidup bersama sang suami Sahril (40) dan kedua anaknya di Desa Pale, kecamatan Tobelo Selatan, Kabupaten Halmahera Utara, yang di pimpin oleh Smas Ut Lule dan Wiher Lobiua sebagai kepala dan sekertaris desa tersebut.

Berdagang ikan asap semenjak 2007 dengan alat seadanya tidak membuat Suratmin menyerah, sampai akhirnya pada tahun 2012 Suratmin mendapatkan bantuan dari Dinas Perikanan  kabupaten Halmahera Utara. Bantuan yag didapat berupa sebuah ruangan ukuran 3 x 5 meter untuk digunakan memanggang ikan. Selanjutnya pada tahun 2014 Suratmin mendapatkan bantuan lagi berupa satu Kulkas yang digunakan untuk menyimpan ikan yang belum bisa dipanggal dalam satu hari. Melalui usaha yang dibangunnya ini, Suratmin mengaku bisa mencukupi kebutuhan keluarganya sehari-hari, walaupun kadang masih terasa kurang, ditambah dengan pedidikan kedua anaknya yang sedang duduk di bangku SMP dan yang sedang menjalani pendidikan di perguruan tinggi.

Suratmin dikenal dengan sebutan “dibo-dibo”, dibo-dibo merupakan sebutan untuk orang yang mengambil ikan dari nelayan dan menjualnya kembali. Suratmin membeli ikan Tuna dari nelayan yang pulang melaut dengan harga lima puluh ribu rupiah per ekornya. Setelah ikan itu selesai dipanggang, Suratmin menjulanya degan harga eam puluh ribu rupiah per ekornya. Selain membeli ikan sebagai bahan dasar, Suratmin juga membeli sabuk kelapa dengan harga 30 ribu rupiah per satu bak Kaisar, sebagai bahan untuk memanggang ikan.

Disekitar rumah mereka, terdapat lahan yang sangat besar. Lahan tersebut bukan milik Suratmin bersama suaminya melainkan milik orang tua mereka. Sebelumnya Suratmin pernah bertani dengan menggunakan lahan tersebut, tapi Suratmin mengaku lebih nyaman membangun usaha ikan asap. Keuntungan yang diperoleh Suratmin tidak tetap, semua tergantung ikan yang terjual setiap harinya. Penghasilan rata-rata per hari sebesar 50-100. Suratmin hanya memperoduksi ikannya, setelah ikan tersebut matang,  selanjutnya dijual di pinggiran jalan raya oleh Ramla (80), yang merupakan orang tua kandung dari Suratmin. Satu ekor ikan yang laku memberi keuntungan bagi Suratmin sebesar sepuluh ribu rupiah, sepuluh ribu itu dibagi lagi sebesar dua ribu supiah kepada ibunya yang menjaul ikan tersebut.

Sosok yang bisa tahan dalam ruang sempit dengan nyala api dan asap yang sangat panas bahkan menyiksa tubuh tersebut layak diberi gelar “Perempuan Tangguh Bertangan Besi”. Ikan-ikan yang sementara dipanggal di atas nyala api itu mulai dari ketinggian satu meter sampai dua meter yang telah melebihi tinggi ukuran tubuhnya itu, mampu ditaklukannya. Suratmin menjaga ikan-ikan yang sementara dipangal itu sampai matang. Satu hal yang sangat mengherankan, ikan-ikan yang dipanggal sekitar 60 ekor setiap kali proses panggal itu, dibolak-balik untuk mencapai matang itu hanya dengan tangan kosong tanpa pengaman. Meski panas yang dihasilkan dari nyala api seringkali dapat merusak tangannya, tapi  ia mengaku sudah bias dan tidak mau menggunakan pengaman berupa sarung tangan atau sejenisnya.

Tentunya setiap usaha yang dibangun mempunyai tantangan tersendiri, bahkan bisa jadi rugi akhirnya. Suratmin mengaku, sering rugi kerena ikan yang telah siap dijual kadang tak laku di pasaran. Sejauh ini usaha yang ia bangun bersama suaminya itu, jangkauan pasarnya hanya di sekitar Kota Tobelo saja. Suratmin berharap, usaha ini bisa mendapatkan perhatian serius dari pemerintah kabupaten bahkan pihak lain, agar usaha yang telah dibangun sepuluh tahun yang lalu ini tidak akan tutup dan bahkan hasil produksinya ini bisa terjual di daerah lain selain Tobelo.



Baca Juga