Seruan Natal 2017 Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Masa Bakti 2016-2018

08 Dec 2017 14:35:00 || Penulis:PENGURUS PUSAT


Shalom !!!

Dari rumah perjuangan bersama, Salemba 10, Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia masa bakti 2016-2018 mengucapkan selamat menyongsong kelahiran Sang Pembebas, Kristus Yesus. Natal merupakan momentum paling bersejarah bagi dunia dan seluruh umat manusia. Kelahiran Kristus hendaklah tidak kita maknai sebagai sebuah ritual yang berulang dan kosong tanpa makna. Kelahiran-Nya sebagai pertanda bahwa kabar sukacita dan keselamatan sedang diberitakan, kedamaian memenuhi bumi dan pembebasan manusia dari belenggu dosa, pembebasan yang holistik.

Kedatangannya sebagai pentahiran manusia. Kedatangan Kristus sebagai pertanda perubahan, kedamaian dan keadilan bersemayam sampai keujung-ujung bumi. Kehadirannya dimaknai ketika Tuhan merendahkan diri dan hatinya, menjadi manusia yang sederhana. Hadirnya Yesus ke dunia adalah untuk memberikan teladan secara nyata, bagaimana manusia yang sejati. Bagaimana seharusnya pikiran, ucapan, dan tindakan dari seorang manusia seutuhnya. Yesus menjadi contoh bagi kita, bagaimana keugaharian seorang manusia, yang hidup bersosial dan juga berlingkungan.

Maka, umat Kristen haruslah menjadi umat yang penuh dengan keugaharian. Mengutamakan kesederhanaan dan kebercukupan. Memberikan atensi yang besar kepada hubungan sosial dan lingkungan. Menjalin hidup damai dengan semua ciptaan. Keugaharian menjadi penting saat ini, di tengah kondisi masyarakat kita yang terkena sindrom globalisasi dan cenderung konsumtif. Berkeluh kesah dan ketidakpuasan lebih utama ketimbang mengucap syukur. Rasa iri dan cemburu lebih dikedepankan daripada toleransi dan hidup gotong royong. Kisah hidup Yesus dan gereja mula-mula mengajarkan kita bagaimana hidup seorang Kristen sejati. Mengutamakan tidak hanya diri sendiri tapi juga sesama. Hidup berbagi sehingga setiap orang dapat merasakan kebersamaan dan kebahagiaan. Saling membantu dan kerja bersama, karakter yang sebenarnya masih banyak kita rasakan dalam kehidupan masyarakat desa.

Melalui momen kelahiran-Nya, GMKI hadir sebagai duta Kristus di bumi, yang senantiasa bergerak untuk menghadirkan kedamaian dan pembebasan holistik di nusantara. Dengan segala keterbatasannya tidak menghalangi seluruh kader GMKI untuk menyuarakan dan mewujudkan kebenaran, keadilan, perdamaian, demokrasi dan keutuhan ciptaan. GMKI harus dan akan selalu hadir dan menampilkan wajah Kristus (Christian Presence) dalam konteks Ke-Indonesiaan. Apalagi saat ini bangsa Indonesia sedang diterpa berbagai macam permasalahan yang berpotensi memecah belah bangsa. GMKI sebagai duta pembebasan harus mampu menampilkan wajah Yesus Sang Pembebas dalam setiap pergerakannya. Momentum kelahiran Yesus Kristus harus dimaknai dengan keberpihakan-Nya kepada orang miskin seperti dalam Yesaya 61 : 1-2.

Kesenjangan sosial dan ekonomi di Indonesia yang masih tinggi, terkhusus antara masyarakat kota dan desa, mengharuskan GMKI untuk mengambil posisi dengan keberpihakannya kepada “si miskin” dengan hadir di tengah rakyat, “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit” (Lukas 10:2). Kristus pun hadir di bumi sebagai orang miskin, dibuktikan ketika ritus purifikasinya dimana orangtuanya mempersembahkan burung merpati (Lukas 2 : 24). GMKI adalah pekerja yang mengabdikan diri bagi Kristus. Hal pertama yang harus dilakukan GMKI adalah menegaskan komitmennya kepada Kristus dan Indonesia kemudian mentransformasikan dirinya dengan menyelami realitas dan membangun hubungan yang dialogis dengan rakyat, lalu turut merasakan penderitaan rakyat.

Kesenjangan ekonomi dan sosial yang terjadi di Indonesia perlu segera di benahi. Masih banyaknya rakyat miskin di Indonesia, terkhusus di kawasan pedesaan mengindikasikan banyaknya tuaian yang harus dikerjakan. Jumlah penduduk miskin Indonesia mencapai 27,77 juta orang dengan 17,10 juta orang yang tinggal di daerah pedesaan. Oleh karena itu, Secara khusus dalam Natal 2017, GMKI menyoroti pembangunan di desa-desa tertinggal yang jumlahnya saat ini mencapai angka 63,82% dari 74.910 desa yang telah terverifikasi. Jumlah angkatan kerja di desa mencapai 58,4 juta orang juga didominasi oleh lulusan sekolah dasar dengan presentase 57,78%. Dengan tingkat pendidikan yang rendah tersebut mengakibatkan tingginya presentase penduduk miskin. Sebanyak 82% masyarakat desa masih hidup dari sektor pertanian, di dalamnya ada peternakan dan perikanan, masyarakat desa hidup dengan hubungan yang kuat dengan alam, akan tetapi masih banyak terjadi penyerobotan hak yang dilakukan oleh “yang kuat” (powerfull) terhadap masyarakat desa yang lemah (powerless). Bahkan dalam beberapa kejadian, penyerobotan dilakukan dengan kekerasan dan didukung oleh negara melalui aparaturnya. Negara bukannya melindungi, malah turut memerangi rakyatnya. Kekerasan, ketidakadilan, dan diskiriminasi dihadapi oleh masyarakat desa, yang sebagian besar masih konsisten menjaga keutuhan budaya dan lingkungan.

Yesus adalah Sang Juru Damai, namun Yesus juga adalah Sang Pembebas yang menunjukkan sikapnya, membela dan membebaskan kaum termarjinalkan. Yesus mendamaikan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan semua ciptaan lainnya. Yesus juga membebaskan manusia dan semua ciptaan dari tirani yang mengungkungnya.

Maka GMKI harus juga menunjukkan sikapnya. GMKI menolak segala tindakan negara ataupun berbagai pihak lainnya yang melakukan ketidakadilan, diskriminasi, dan kekerasan terhadap masyarakat desa. GMKI harus melindungi, menjaga, dan melestarikan kehidupan masyarakat desa, yakni hidup damai, rukun, toleran, gotong royong, dan melestarikan budaya dan lingkungan. Terlebih dari itu, GMKI juga harus dapat berperan meningkatkan ekonomi masyarakat desa. Sehingga dari desa kita akan menunjukkan daya saing. Dari desa kita akan merasakan keadilan. Dari desa kita akan menikmati kesejahteraan. Dari desa kita akan mengalami kemerdekaan yang hakiki. Dari desa kita menjadi manusia seutuhnya. Disinilah peran GMKI, peran pemuda Kristen. Menjadi teladan di tengah masyarakat, seperti Sang Kepala Gerakan yang kita teladani. Menjadi pemuda yang ugahari, toleran, dan bergotong royong. Menjadi mahasiswa dan pemuda yang berperan bagi keberlanjutan desa.

Dalam hangatnya Natal tahun ini PP GMKI menghimbau seluruh cabang di Tanah Air agar serentak bergerak menyongsong Natal 2017 melalui kegiatan-kegiatan dan aksi sosial serentak yang diutamakan dilakukan terhadap masyarakat desa, dengan spirit yang sama yakni menghadirkan wajah Kristus sang Pembebas. GMKI selama momen Natal harus menjalin komunikasi dengan masyarakat desa dan melakukan advokasi apabila terdapat persoalan yang dihadapi oleh masyarakat desa. GMKI harus berdiri bersama dengan masyarakat desa, sehingga desa dapat mengalami pembebasan, berdaulat, mengalami perdamaian dan kesejahteraan. Kiranya dengan kedatangan-Nya di bumi kita dimampukan menghadirkan kasih, perdamaian dan persaudaraan di tengah Bangsa Indonesia dengan mengejahwantakan Evangelium Christi dalam segala aspek kehidupan bangsa dengan menjadi duta Kristus yang membawa pembebasan holistik.

Selamat merayakan Natal. Kasih sayang Yesus tidak hanya menyelamatkan kita dari maut, namun juga memimpin kita dalam membangun peradaban masyarakat kita yang adil, makmur, dan sejahtera.

Selamat Menyongsong Natal 2017

 

Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia

Masa Bakti 2016-2017

Sahat Philip Martin Sinurat/Ketua Umum

Alan Christian Singkali/Sekretaris Umum



Baca Juga