Risalah Diskusi GMKI Cabang Ternate: Kedududukan Perempuan dalam Alkitab

16 Sep 2017 14:26 || Penulis:TERNATE



TERNATE - GMKI Cabang Ternate mengadakan diskusi dua mingguan oleh bidang Penguatan Kapasitas Perempuan (PKP) di sekretariat GMKI Ternate (1/9/17). Diskusi ini dibawakan Pdt. Ferolin Pittapelohy sebagai narasumber dengan tema “Kedududukan Perempuan dalam Alkitab”

Dalam pandangan Alkitab Perempuan di ciptakan sederajat dengan laki-laki, menurut gambar dan rupa Allah, di mana kemuliaan Allah di nyatakan pada laki-laki dan perempuan (Kejadian 1:26-27). Dalam Kejadian 2:18-20 menyebutkan bahwa perempuan di ciptakan sebagai "Penolong bagi laki-laki yang sepadan dengan dia." Kata “Penolong” dalam bahasa Ibrani yang menyatakan kesetaraan. Kata “Rusuk” bukan menunjukkan hierarkis tinggi -rendah, kuat-lemah diantara lelaki dan perempuan, melainkan menunjukkan integritas organis (keutuhan yang tidak terpisahkan karena keduanya menyatu)di antara lelaki dan perempuan. 

Dalam perjanjian lama bangsa Israel memiliki budaya yang bercorak patriakhi sehingga  kedudukan perempuan lebih rendah dari pada laki-laki yang ditulis pada masa pembuangan, dan pada masa yang sama pula perempuan tidak dapat menikmati pendidikan publik, hanya diberi kesempatan pada pendidikan domestik. Akan tetapi Allah juga memakai beberapa perempuan untuk berperan dalam kehidupan bangsa Israel pada saat itu, seperti Debora, Rut, Ezter yang memiliki kualitas yang luar biasa.

Dalam  Perjanjian Baru Yesus hadir dengan mendobrak tradisi orang Yahudi saat itu,  sehingga perempuan mendapat kedudukan serta peran yang di lihat dalam karya penyelamatan Allah. Kedudukan perempuan juga setara, sederajat dan sepadan dengan lelaki dalam pelayanan Yesus Kristus dan diteruskan oleh gereja sampai Yesus Kristus datang kembali. Kisah dalam Lukas 7 dan 8 mengenai para perempuan yang melayani Yesus dan diteruskan dengan peranan Lydia, Priskhila istri Akwila, pada masa jemaat mula-mula memperlihatkan kedudukan perempuan yang setara, sepadan ,sederajat dalam bermitra dengan lelaki dalam melaksanakan tugas kesaksian dan pelayanan Injil Yesus Kristus. 

Kalau dalam Alkitab mengatakan perempuan tidak boleh berbicara di hadapan umum dan harus mengenakan kerudung yang menutup kepala, maka teks itu harus dipahami dalam konteks jemaat setempat.Misalnya di Korintus, Korintus adalah kota pelabuhan, berhimpunnya berbagai ras, golongan, budaya dan agama dimana tidak dapat dibedakan diantara perempuan “baik-baik” dari para pekerja seks komersial. Para pekerja seks komersial  (PSK)selalu berbicara dengan suara keras di depan publik untuk menarik perhatian lelaki (cara PSK berpromosi) dengan berdandan yang “menyolok mata dan mengundang” atau penuh pesona yang menggoda. Sebab itu, Paulus harus memberi nasihat yang membentuk karakteristik perempuan yang beriman . Karakteristik ini tidak ada relevansinya dengan urusan “kedudukan dan hak”di antara perempuan dan lelaki.  

Dalam surat-surat Deutero Pauline (Efesus dan Kolose) yang berkaitan dengan suami dan istri, bukanlah menunjukkan adanya status hierarkis, kedudukan tinggi-rendah, melainkan menunjukkan RELASI diantara lelaki/suami, istri, dan anak-anak. Dalam relasi ini, ada ruang untuk saling mengoreksi, menasihati, bersitenggang rasa, setia, mengasihi, bertanggung jawab, yang intinya, berkaitan dengan kepentingan bersama bukan kepentingan diri sendiri. (Wize/ Sekfung PKP GMKI Ternate)