GMKI Bengkulu Bedah Film In The Time Of Butterflies

05 Oct 2017 23:05 || Penulis:BENGKULU



Kekerasan terhadap perempuan menjadi isu yang cukup diseriusi pegiat perempuan di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Bengkulu. Mengangkat film berceritakan sejarah hari anti kekerasan internasional perempuan dengan judul “IN THE TIME OF THE BUTTERFLIES” yang diikuti puluhan peserta terlihat cukup serius, Sabtu (30/9) di Sekretariat GMKI Cabang Bengkulu. 

 

Dalam film tersebut menceritakan perjuangan dari keluarga Minerva Mirabal dan saudaranya menentang kediktatoran kekuasaan Trujillo untuk terciptanya keadilan di Republik Dominika. Perjuangan ini harus berakhir karena Mirabal dan saudaranya dibunuh pada tanggal 25 November. Selanjutnya peristiwa keji itu diperingati sebagai hari anti kekerasan internasional terhadap perempuan. 

 

Uli Arta Siagian yang merupakan pemandu dalam diskusi tersebut mengatakan, kediktatoran penguasa Trujillo dalam konteks Indonesia, terlihat bagaimana para pengusaha dan penguasa bermain mata. Uli sapaan akrabnya, menyampaikan, pengusaha dan penguasa kerap memakai elemen-elemen negara dan memperdaya masyarakat untuk tercapainya kepentingan golongan tertentu. 

 

Film in the time of butterflies ini diangkat dari sebuah novel karya Julia Alvarez tahun 1994 yang memiliki konteks gerakan feminis dan juga gender. Berlatar belakang tahun 1960 film yang disutradarai oleh Mariano Barroso cukup sederhana, selain itu juga substansi yang terkandung di dalam film tersebut mudah dipahami.

 

“Seseorang dikatakan feminis ketika mereka merasa bahwa mereka harus berjuang melawan ketertindasan dan ketidakadilan yang terjadi pada perempuan,” ujar Uli menjelaskan dengan mimik serius.

 

Gender bukan bicara jenis kelamin namun peranan dan fungsi antara laki-laki dengan perempuan yang dibentuk atas konstruksi budaya. Film yang diproduksi awal tahun 2000-an ini menampilkan kesetaraan gender antara Minerva Mirabal dengan suaminya. Mereka membuat kesepakatan bersama dan saling berbagi peran dalam melawan kediktatoran dari kekuasaan Trujillo. 

 

Perempuan yang berani, siap untuk bersuara dan mengikuti beberapa gerakan perempuan sesungguhnya sudah melalui beberapa lapisan. Perlawanan laki-laki dan perempuan di dalam  pergerakan sosial sesungguhnya berbeda.

 

Laki-laki pada umumnya lebih diberi ruang istimewa. Laki-laki akan dianggap pahlawan, hebat dan pantas ketika melakukan pergerakan. Berbeda ketika perempuan memilih pergerakan dalam organisasi dan pulang larut malam cenderung timbul stigma perempuan negatif.

 

“Perempuan harus melawan lapisan-lapisan yang ada,” kata Uli.

 

Pertama yaitu diri sendiri dimana perempuan harus bisa merdeka terhadap stigma-stigma yang ada, yang kedua adalah lapisan keluarga karena umumnya kita dibesarkan dikeluarga patriarki, dan yang ketiga adalah masyarakat.

 

“Kesetaraan gender bukan membahas siapa dan melakukan apa, ataupun bagaimana dia melakukannya. Tetapi kesetaraan gender akan terjadi ketika perempuan dan laki-laki bisa sama-sama saling menghargai peranan dan fungsinya masing-masing. Untuk itu diperlukan kesadaran dari diri sendiri baik itu perempuan maupun laki-laki,” ungkapnya lagi. 

 

Terakhir sebelum menutup diskusi, Uli mengajak dan mengingatkan Kader GMKI supaya lebih jeli lagi melihat pengekangan untuk berekspresi. Berbicara yang terjadi pada perempuan maupun laki-laki pada masa sekarang, baik di lingkungan kampus maupun di lingkungan masyarakat. Apakah kita sekarang benar-benar sedang berdemokrasi, gagap berdemokrasi atau bahkan kita gagal berdemokrasi? untuk itu kader GMKI harus berefleksi lagi pada rezim saat ini. (Ema)