Menuju Gerakan Milennial Pemuda Indonesia

07 Nov 2017 17:46 || Penulis:King Clinton Naganegara Sinaga, Anggota GMKI Cabang Medan


Sumpah pemuda menjadi hal yang tak terlupakan bagi sejarah dalam NKRI. Para pemuda melakukan merger menghilangkan ego masing-masing baik suku, agama ataupun ras  untuk mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 hasil rumusan dari Kongres I dan II yang hingga kini  setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda yang dirayakan setiap tahun hendaknya membakar sikap nasionalisme bahwa para pemuda di Indonesia tidak lagi berjuang sendiri-sendiri melainkan bersama-sama.

Menurut Muh Yamin (1928)  ada 5 faktor yang bisa memperkuat pesatuan Indonesia yaitu sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan  paling penting kemauan. Namun untuk mencapai tujuan yang diatas tidak mudah apalagi pemuda sekarang merupakan kaum millennial. Kaum millennial adalah mereka generasi muda yang terlahir antara tahun 1980 sampai 2000 yang mengantungkan hidupnya pada gadget. Contohnya apabila pergi mudik dengan menunggu angkutan pada loket cenderung seseorang lebih memilih memainkan gadget untuk bermain instagram ataupun medsos lainnya daripada bercengkrama bagi orang sekitarnya. “Padahal makhluk sosial hakikatnya bersosial bukan bergadget”. Hal tersebut merupakan kritikan bagi diri kita masing-masing.

Sedikit mengulas ke dunia pendidikan terkhususnya pendidikan tinggi .Rata-rata di masing-masing perguruan tinggi yang berada di Sumatera Utara cenderung memaksakan mahasiswa nya untuk membeli buku demi mendapatkan nilai yang memuaskan. Hal ini menurut saya merupakan cara untuk mempersiapkan mahasiswa menjadi mental tempe dan menjadi para pekerja yang tunduk pada atasannya. Apalagi didalam bangku perkuliahan sangat sedikit tenaga pengajar membudidayakan budaya diskusi. Mahasiswa dianggap sebagai gelas kosong yang terus diisi hingga penuh sedangkan dosen dianggap sebagai gelas yang sudah penuh. Pendidikan yang baik menurut saya saling mengisi antara subjek dan objek dengan membudidayakan dialog bukan monolog. Mengutip kata Plato “pendidikan adalah proses yang dilakukan seumur hidup yang dimulai dari proses lahir hingga kematian, yang akan membuat seseorang semangat dakan mewujudkan warga Negara yang ideal dan mengajarkannya bagaimana cara memimpin dan mematuhi yang benar”.

Tidak baik untuk terus menerus menyalahkan sistem yang salah, alangkah lebih baik saling berbenah. Menurut  data statistik UNESCO 2012 yang menyebutkan indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Artinya, setiap 1.000 penduduk, hanya satu orang saja yang memiliki minat baca. Angka UNDP juga mengejutkan bahwa angka melek huruf orang dewasa di Indonesia hanya 65,5 persen saja. Sedangkan Malaysia sudah 86,4 persen. Tidak heran bukan Indonesia menjadi Negara yang paling sering tertipu oleh isu-isu yang belum tentu benar alias hoax.  

Mungkin para pendahulu seperti Soegondo Djojopoespito, Amir Sjarifuddin, dan Johanes Leimena di alam yang lain bersedih melihat kondisi pemuda saat ini. Cita-cita yang beliau tanamkan pada saat memperjuangkan sampai memerdekakan Negara Indonesia tidak bisa diganti baik materil maupun moril sehingga pemuda sekarang bisa merasakan hasil perjuangan mereka. Apa yang bisa kita perbuat hai para pemuda era sekarang?. Cukup dengan menularkan virus membaca dengan cara membuat lokus-lokus kecil pada generasi selanjutnya dengan mengefektifkan penggunaan gadget sebagai pendukung buku bukan pengganti buku dalam mencari informasi. Karena perubahan itu dimulai dari hulu bukan dari hilir. Mari secara bersama-sama bergandengan tangan berperang melawan kebodohan.