Refleksi Hari Sumpah Pemuda: Menggalang Semangat Persatuan Lintas Organisasi Kepemudaan

07 Nov 2017 17:55 || Penulis:Roberto Duma Buladja , Anggota GMKI Cabang Salatiga


Berbagai kelompok pemuda dari kepelbagaian organisasi kedaerahan dengan variatifnya pola pergerakan mengikrarkan sumpahnya dalam suatu momentum akbar – Kongres Pemuda II yang terlaksana pada 28 Oktober 1928. Peristiwa ini dikenal dengan Hari Sumpah Pemuda. Suatu peristiwa akbar dan bersejarah ini merupakan konsensus bersama dikalangan pemuda yang terbangun atas suatu kondisi kehidupan yang notabenenya terbelenggu, terjerat dan semacamnya akibat ekspansinya bangsa kolonial pada waktu itu.

Dalam lembaran sejarah perjalanan bangsa Indonesia, tercatat bahwa Sumpah Pemuda yang diikrakan merupakan tonggak sejarah penting dalam upaya-upaya merebut kemerdekaan. Tentunya, kaum muda memiliki peran dan kontribusi besar bagi lahirnya negara yang dinamakan Indonesia ini. Dalam bukunya Benedict Anderson dengan judul “Revoloesi Pemoeda (1988)” sebagaimana yang dikutip dalam tulisan Insani (2014), menggambarkan dengan jelas keterkaitan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 dengan konsolidasi pemuda yang terjadi tujuh belas tahun sebelum Indonesia.

Konsolidasi dikalangan pemuda melalui momentum Sumpah Pemuda menunjukan bahwa kaum muda memiliki kemampuan untuk melihat jauh kedepan (visioner), konseptor dalam merumuskan cita-cita yang ideal, bahkan terlibat secara aktif — transformatif  dalam menentukan arah dan masa depan bangsa. Begitu gemilangnya pencapaian-pencapaian bangsa yang diraih dengan persatuan dan semangat juang pemuda. Dengan demikian, kepemudaan selalu didentikan dengan kekuatan dan spirit pembaharuannya.

Lantas, bagaimana arah gerak dan juang generasi muda sekarang – generasi penerus cita-cita ber-Indonesia? Tentunya, serasa tak cukup jika kalangan muda kini hanya bernostalgia belaka – terlena oleh romantisme kejayaan masa lalu. Kini, tantangan terbesar yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah sebagaimana tertuang dalam seruan pidato Sang Proklamator – Bung Karno, bahwa; “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri”.

Seruan pidato Sang Proklamator mendapatkan tempatnya jika menyandingkannya dengan perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tujuh dua puluh tahun sudah kita ber-Indonesia, sejak kemerdekaan diproklamirkan, serta sembilan belas tahun bergulirnya era reformasi ini, namun bangsa Indonesia masih saja berjuang (melawan) keterbelengguan perilaku korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), kesenjangan masyarakat di bidang pendidikan, hukum, serta sosial-ekonomi masyarakat, narkoba, radikalisme dan terorisme, serta berbagai permasalahan yang kian nampak – tersebar hingga ke seluruh sendi-sendi kehidupan bangsa.

Kompleksitas permasalahan yang ada menyisahkan pekerjaan rumah yang besar bagi Pemerintah Indonesia serta seluruh lintas pelaku (stakeholder) bangsa guna mewujudkan kesejahteraan umum bagi seluruh rakyat Indonesia, sebagaimana cita-cita ideal bangsa ini didirikan. Kaum muda yang pernah menorehkan pencapaian dan pembaharuan bagi bangsa Indonesia kini dituntut untuk mencari format pergerakannya yang relevan dan ampuh guna menjawab berbagai persoalan dan tantangan zaman konteks kekinian. Namun, untuk meladeninya, kaum muda senantiasa dituntut untuk mengkonsolidasikan pergerakannya dalam semangat persatuan.

Di era reformasi ini, semangat persatuan mendapatkan tantangannya tersendiri, mengingat kaum muda kini tersebar disegala lini organisasi dengan arah dan pergerakannya masing-masing. Hal demikian merupakan suatu kewajaran, mengingat adanya kebebasan bagi seluruh rakyat Indonesia untuk berkumpul dan mendirikan organisasi yang dijamin melalui Undang-Undang Dasar 1945. Namun, disayangkan jika memunculkan gesekan-gesekan secara ideologis (bahkan fisik) yang notabenenya destruktif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Berbeda pendapat/pandangan merupakan suatu keniscayaan, namun kian memburuknya jika kaum muda kehilangan orientasi pergerakannya dalam upayanya mengawal cita-cita ber-Indonesia.

Momentum akbar Oktober 1928 menggambarkan adanya kesadaran lintas organisasi pemuda untuk menyatukan ide/gagasan serta semangat perjuangan guna melakukan perlawanan terhadap bangsa kolonial. Maka, konteks kekinian semangat yang demikian seharusnya terpatri dalam roh pergerakan lintas organisasi kepemudaan di Indonesia. Kompleksnya permasalahan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia tidak akan mampu diladeni oleh organisasi pemuda tertentu, melainkan membutuhkan sinergitas dan kerja sama (gotong royong) lintas organisasi kepemudaan di Indonesia.

Kiranya pepatah “Bersatu Kita Teguh, Bercerai Kita Runtuh” tidak hanya sebatas slogan belaka, melainkan dapat ditransformasikan dalam arah pergerakan lintas organisasi kepemudaan demi mewujudkan Indonesia yang sejatinya. Salam Pemuda Indonesia, Salam Persatuan !!!