Gelombang Sumpah Pemuda Dan Gelora Radikalisme

07 Nov 2017 18:02 || Penulis:Jekry Ariyanto Sopa, Sekfung Aksi & Partisipasi GMK


Semangat para pemuda berkobar dan menggelora menyuarakan tekad yang bulat mempersatukan bangsa Indonesia jauh sebelum Indonesia merdeka.  Peristiwa 28 Oktober 1928 merupakan suatu momentum bersejarah dan bernilai  yang dikenal pula sebagai tonggak bersatunya bangsa Indonesia. Ikrar sumpah pemuda dianggap sebagai kristalisasi semangat untuk menegaskan cita-cita berdirinya Negara Indonesia. Peristiwa sejarah pergerakan kepemudaan yang telah dibentagkan pada masa lalu tentunya didasari atas rasa cinta dan ketulusan hati dalam simpul persatuan terhadap Indonesia. Rasa cinta yang menggelora itu dibarengi pula oleh kecerdasan intelektual, ketajaman berpikir, dan semangat pergerakan, serta dengan rasa ketulusan yang bergema memancarkan aksi perjuangan dengan satu tekad persatuan dan kesatuan serta kesejahteraan masyarakat Indonesia.

          Bawasannya sebagai pemuda kita sadar bahwa semangat sumpah pemuda pada tahun 1928 dalam ikrar bingkai persatuan, hari ini telah diperhadapkan dengan gelora penolakan terhadap nilai-nilai Pancasila yang saat tumbuh subur dan bergelora di tengah masyarakat yang juga dipelopori oleh generasi muda, sehingga rasa cinta itu masih ada pada kita untuk bangsa ini, maka tanggalkan semua primordialisme dan fanatisme yang menggelora dalam semangat menggorogoti simpul-simpul persatuan dari bangsa ini. Hal ini tentunya diharapkan konsistensi dengan semangat perjuangan yang diterima sebagai warisan pemuda di masa lalu dengan menggelorakan semangat persatuan dalam menghadapi gelombang radikalisme yang terus menggerogoti simpul persatuan Pancasila.

          Sumpah pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober setiap tahunnya jangan sampai hanya menjadi kegiatan seremoni tanpa ada sebuah pesan dan reflekleksi untuk meramu kembali apa yang menjadi cita-cita bangsa kita. Maka sebagai pemuda kita perlu menangkal gelora penolakan terhadap sistem demokrasi pancasila yang merupakan strategi pelemahan terhadap semangat sumpah pemuda, karena semangat mempersatukan tanah air, bangsa dan bahasa merupakan bagian terkecil dari mata rantai kekuatan berbangsa dan bernegara yang terdapat dalam konsesus dasar bernegara dan berbangsa bagi seluruh insan Indonesia. Dengan demikian semangat melestarikan konsesus dasar Negara harus berdasar pada semangat sumpah pemuda. Barisan pemuda merupakan barisan kekuatan secara fisik dan ideologi yang diharapkan memperkokoh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di bawah semangat kibaran bendera Merah Putih.

          Pada momentum ini marilah kita berbenah, tanggalkan semua atribut primordialisme dan fanatisme yang mungkin ada pada kita, dan temukan konsep yang merupakan harapan dan cita-cita dalam bingkai ideologi Pancasila dari bangsa ini sehingga kita dapat merajutnya dalam sebuah aksi nyata yang dapat membawa perubahan dan pencerahan kearah cita-cita mulia dari Indonesia yang lebih baik. Oleh sebab itu menjadi catatan untuk kita sebagai generasi muda teruslah memupuk akan semangat kepemudaan kita dalam pergerakan serta terus berbenah dan tingkatkan kapasitas intelektual yang semestinya senantiasa melekat pada kita, sehingga kita dapat menepis dan mengkanter setiap kepentingan yang mencoba membelokkan ideologi Negara serta kita ditunggangi oleh kepentingan yang mencoba menggerogoti semangat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga jika ingin melihat bangsa yang akan maju maka lihatlah pemudahnya hari ini, karena potret masa depan sebuah bangsa dilihat dari pemudanya.

          Pemuda hari ini dan esok terus menjadi benteng kekuatan yang melindungi gangguan ideologi dan gangguan fisik bagi kelangsungan, keutuhan dan kebersamaan sebagai sesama bangsa Indonesia, bangsa yang pluralistik, bangsa yang memiliki wibawa di mata dunia, dan bangsa yang disegani oleh seluruh bangsa-bangsa lainnya. Sebagai pemuda yang punya power penggerak dalam berbagai aspek kehidupan, hari ini kita dituntut untuk bukan saja berbicara konsep dan gagasan serta kritikan, tetapi yang penting sebenarnya adalah konsep dan tindakan nyata dalam nuansa simpul-simpul persatuan dan gelora semangat persatuan pemuda dan masyarakat Indonesia.

          Jayalah mahasiswa dan pemuda, jayalah Indonesia, kearah cita-cita mulia untuk bangsa Indonesia yang lebih baik. Marilah kita terus berbenah dan berjuang dengan penuh cinta dan ketulusan untuk satu nama yakni Indonesia dan singkirkan serta mengutuk dengan lantang semua faham radikalisme, primordialisme dan fanatisme yang ada pada mahasiswa dan pemuda Indonesia, dan jayalah Indonesia.