Menunggu Gelombang Besar Pemuda Pasca Sumpah Pemuda

07 Nov 2017 18:06 || Penulis:David Robby Marpaung, Anggota GMKI Cabang Bandung


Kaum pemuda berperan penting karena mereka         adalah tanah liat yang dapat dibentuk menjadi sosok manusia baru  tanpa kesalahan-kesalahan lama.

Pemuda merupakan bagian instrumen penting dalam pembangunan bangsa dan negara. Dimasa mendatang Indonesia menjadi salah satu negara yang diprediksi akan mendapatkan bonus demografi. Hal tersebut menjadi momentum yang baik bagi pemerintah untuk berkolaborasi dengan para pemuda yang nantinya menjadi pemeran penting dalam meningkatkan derajat bangsanya.

Pengembangan sumberdaya manusia (SDM) harusnya menjadi salah satu program prioritas pemerintah untuk mempersiapkan peran pemuda yang ikut serta dalam pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Perguruan tinggi yang dominan diisi oleh para pemuda yang intelektual tidak menjadi jawaban untuk mengahasilkan alumni yang mampu membuka lapangan pekerjaan baru, bahkan menambah pekerjaan rumah bagi negara. Pengembangan SDM baik secara softskill dan hardskill penting sebagai bekal pemuda ditengah persaingan global yang semakin terbuka.

Serangkaian Permasalahan Pemuda

Ditengah problematika kebangsaan hari ini, generasi kita diperhadapkan dengan persoalan yang tidak sehat yang mengakibatkan krisis kepercayaan pemuda terhadap kinerja para pemangku jabatan. Korupsi yang kian massif berakar  tidak hanya menggerogoti golongan tua namun sudah sampai kepada golongan muda. Hukum yang dipermainkan seperti aturan rimba yang tumpul keatas dan tajam kebawah mengarahkan persepsi kita, bahwa ada beberapa individu atau kelompok yang kebal terhadap hukum. Proses evaluasi terhadap kondisi bangsa hari ini menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat dimana pemudalah yang menjadi garda terdepan dalam proses perubahan. Perubahan itu tidak boleh menjadi milik satu golongan tertetentu,ia harus menjadi tanggung jawab semua pihak.

Dalam rangka proses mencari jati diri, pemuda diperhadapakan dengan serangkaian permasalahan yang dapat merusak entitas daripada para pemuda-pemudi bangsa yang apabila tidak cepat diselesaikan akan mengakibatkan hilangnya generasi bangsa (loss generation). Salah satu dari sekian banyak persoalan yang dihadapi para pemuda, narkoba menjadi salah satu ancaman yang serius. Menurut Data Badan Narkotika Nasional (BNN) 2014 terkait pengguna narkotika dan obat obat terlarang (Narkoba) menyebutkan, 22 persen pengguna narkoba di Indonesia merupakan pelajar dan mahasiswa. Tidak hanya menghasilkan efek candu bagi penggunanya, narkoba juga dapat merusak jaringan otak yang mengakibatkan  kematian bagi para penggunanya.

Selain bahaya narkoba, menyebarnya paham ekstrimis yang berpotensi pada perilaku radikalisme dapat menimbulkan lunturnya semangat nasionalisme dikalangan para pemuda. Permasalahan bangsa hari ini tidak berasal dari luar saja, namun juga dari dalam bangsa itu sendiri. Sehingga benarlah apa yang disebutkan dalam sebuah pepatah romawi “Pecah, belah, dan kuasai” menjadi momok yang menakutkan apabila kesolidan suatu bangsa dirusak oleh rakyatnya sendiri. Pemuda yang nantinya menjadi ahli waris bagi bangsa dan negara ini perlu di bentengi dengan penguatan akan cinta tanah airnya sendiri dari segala bentuk ancaman.

Perlunya Apresiasi Bagi Para Pemuda

“Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia” begitulah kiranya seorang tokoh proklamator mengapresiasi pemuda Indonesia. Pernyataan tersebut menitikberatkan pemuda sebagai individu yang mempunyai potensi besar, karena memiliki energi yanag cukup untuk mampu melakukan kerja kolaborasi dengan pemuda lainnya dalam hal pembangunan bangsa yang berdaya saing global.

Namun dengan segala potensi yang dimilikinya, pemuda tidak boleh berpuas diri dengan sorak sarai tersebut. Tantangan pemuda dijaman sekarang itu jauh lebih sulit dari sebelumnya. Kemajuan teknologi menjadi salah satu ancaman apabila dilihat dari sisi penggunanaan yang tidak tepat guna. Berbagai macam gawai hari ini didapatkan dengan mudah namun, penggunan yang tidak tepat dapat merusak mental para penggunanya.

Disamping itu, minimnya apreasiasi yang didapatkan pemuda dari negara tidak jarang membuat mereka pergi keluar dan berkontribusi untuk bangsa lain. Sebut saja Ricky Elson salah satu pencipta mobil listrik ‘Selo’ dalam negri yang tidak layak produksi akibat tidak lolos uji emisi mulai dilirik negara tetangga Malaysia. Ricky Elson salah satu contoh pemuda yang kurang mendapatkan apresiasi dari bangsanya sendiri. Perlunya apresiasi kepada pemuda menjadi faktor penting untuk membakar semangat para pemuda-pemudi, tidak hanya secara seromoni formal namun juga dukungan dari semua pihak baik masyarakat maupun pemerintah. Membuka kesempatan sebesar-besarnya menjadi salah satu bentuk dukungan konkrit pemerintah terhadap generasi yang akan datang termasuk juga didalamnya melakukan pembinaan sumber daya pemuda .

 

Gelombang besar Pemuda

Dari mulai awal penjajahan sampai merdeka, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengalami tiga masa gelombang besar pemuda. Gelombang pertama pada tanggal 28 oktober 1928 ditandai dengan munculnya sekelompok pemuda yang berasal dari latarbelakang organisasi lintas suku dan agama berbeda, berkumpul untuk mengikrarkan dirinya dalam suatu janji yang dikenal sebagai “Sumpah Pemuda”. Hal tersebut menjadi titik awal kebangkitan dalam rangka memperjuangkan cita-cita luhur bangsa dari penjajahan kolonialisme.

Gelombang kedua pada tahun 1998 muncul suatu gerakan mahasiswa dari lintas organisasi turun kejalan melakukan aksi massa melengserkan suatu rezim otoriter yang pernah terjadi dibangsa ini. Kesenjangan sosial dan krisis ekonomi yang massif menjadi alasan untuk melakukan pembaharuan dalam sistem tata kelolah pemerintah yang pro terhadap rakyat.

Di tahun 2018 diprediksi Negara Indonesia akan mengalami gelombang yang lebih besar lagi dari gelombang pemuda sebelumnya. Gelombang tersebut dikenal sebagai gelombang bonus demografi dimana angka usia tidak produktif (0-15 tahun dan lebih dari  65 tahun) lebih kecil dibandingkan jumlah penduduk usia produktif. Menurut data Bappenas, UN Population Projection oleh 68% persen penduduk usia muda atau produktif dan sekitar 14 % penduduk usia tua atau non produktif yang puncaknya pada 2018-2031. Bonus demografi memberikan harapan baru bagi bangsa dan negara karena kedepan pemuda indonesia memiliki banyak cadangan pemuda yang mampu menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi baru. Kedepan diharapkan pemerintah fokus pada investasi yang beroritenasi pada pembangunan sumber daya pemuda yang berdaya saing.

Diusia yang ke 89 tahun peringatan sumpah pemuda, bangsa ini menunggu lahirnya gelombang pemuda yang mampu melakukan aksi massa yang berorientasi kepada kinerja nyata. Hal tersebut dapat terwujud apabila pemerintah pun dengan baik menerima pemuda sebagai bagian yang kritis serta partisipatif sebagai mitra sekawan pemerintah.