Tantangan Gerakan Oikumene dan Nasionalisme ditengah Kondisi Bangsa Indonesia

24 May 2017 17:23:30 || Penulis: Ayub Manuel Pongrekun, Ketum PP GMKI M/B 2014-2016


Oikumene memiliki nilai yang sangat mulia : mewujudkan rumah yang layak dihuni. Gerakan oikumene di Indonesia lahir dari sejarah dan nilai kebudayaan Indonesia. Saat gereja memulai gerakan oikumene yang lebih terlembaga, keberagaman dari kelompok-kelompok yang ada sangat kentara. Namun bisa bersama dalam roh Oikumene. Itulah sebabnya, Oikumenisme di Indonesia menjadi kuat, karena dia lahir dari rahim kebudayaan Indonesia. Nasionalisme Indonesia disatukan dalam Pancasila. Maka ketika Indonesia mengatakan tentang Nasionalisme, maka itu berarti Nasionalisme yang berdasarkan Pancasila. Pancasila yang merupakan dasar Negara ini, juga lahir dari galian nilai-nilai yang ada di Indonesia. Kesadaran para pendiri bangsa kita membuat rasa kebangsaan menjadi hal yang paling utama atau bisa dikatakan bahwa jiwa Pancasila adalah Oikumenisme dari Indonesia. Pancasila sebagai rumah bersama. Tantangan bangsa hari ini yang paling utama adalah mewujudkan kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi setiap rakyat Indonesia. Pancasila adalah dasar pijakan dan Oikumene adalah salah satu penguat dari Pancasila dalam menjawab tantangan Bangsa. Tantangan lain, adalah mengenai Ideologi. Diluar Pancasila ada banyak Ideologi yg berkembang. Ideologi-ideologi ini ada yang menggerus dan ingin menggantikan Pancasila sebagai dasar negara. Pancasila dan Oikumenisme Indonesia adalah sebuah Living Ideology. Nilai yang lahir dari Indonesia, tentunya menjadi gambaran tentang Indonesia itu sendiri. Menjawab tantangan yang dihadapi Indonesia hari ini dan masa-masa yang akan datang, tentunya dengan cara melakukan internalisasi nilai-nilai Panca Sila dan Oikumenisme dalam diri kita. Internalisasi nilai akan melahirkan pemahaman dan dasar tindakan untuk bekerja melawan hambatan berbangsa dan bernegara dan paling utama dalam mewujudkan tujuan negara, yaitu Indonesia Raya.